25.9 C
Banda Aceh
spot_img
spot_img

TERKINI

POPULER

© Jasa Web Design Banda Aceh : Creatv.id

19 September 1937 : Pocut Meurah Intan Meninggal di Pengasingan

spot_img

Pada 19 September 1937, Pocut Meurah Intan dikenal sebagai Pocut Di Biheue meninggal di Blora, Jawa Tengah. Ia perempuan tangguh yang seorang diri berperang melawan 18 tentara marsose Belanda di Padang Tiji. Wanita yang masih mampu meludahi muka musuhnya dalam keadaan sekarat sekalipun.

Heroisme Pocut Meurah Intan ini diabadikan oleh TJ Veltman, perwira Belanda yang dalam buku Nota over de Geschiendenis van het Landschap Pidie. Buku ini diterbitkan oleh Tijdschrift Bataviaasch Genootschap pada tahun 1919. TV Veltman merupakan perwira Belanda yang mukanya diludahi Pocut Di Biheue ketika srikandi Aceh itu kritis.

Karena keberaniannya itu pula, Veltman menjulukinya Heldhaftig, yakni perempuan yang gagah berani. Veltman melihat sendiri keberanian Pocut Di Biheue menyerang patroli pasukan Belanda seorang diri ketika hendak ditangkap. Veltman malah membuat catatan khusus tentang Pocut Di Biheu dalam Nota over de Geschiedenis van het Landscap Pidie (1919).

Baca Juga: Jejak Yahudi di Peutjut Kerkhoff Banda Aceh

Selain itu dalam Koloniaal Veslag  tahun 1905 diriwayatkan, Pocut Di Biheue merupakan figur dari keluarga kerajaan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Suatu ketika keberadaan Pocut Di Biheue juga diketahui Belanda. Ia berhadapan seorang diri dengan patroli marsose. Karena terdesak oleh belasan tentara Belanda, Pocut Di Biheue mencabut rencong dari pinggangnya, ia menyerang patroli itu seorang diri. “Kalau begini, biarkan aku mati,” teriaknya.

Pocut Di Biheue memilih menyerang patroli itu dari pada ditangkap. Melihat itu, tentara marsose terkejut. Mereka tak menyangka, seorang perempuan paruh baya berani menyerang patroli 18 tentara Belanda lengkap dengan senjata. Ia menikam ke kiri dan ke kanan sehingga mengenai tubuh beberapa marsose. Sementara tubuhnya sendiri juga ditebas dengan sabetan pedang marsose.

Pocut Di Biheue mengalami dua luka sabetan pedang di kepalanya dan dua sabetan di bahu. Salah satu urat keningnya juga putus. Ia terbaring di tanah bersimbah darah dan lumpur. Veltman kemudian membungkuk dan menjulurkan tangannya untuk membantu Pocut Di Biheue, tapi mukanya diludahi, “Jangan kau pegang aku kaphe,” kata Pocut Di Biheue  setelah meludah wajah Veltman.

Baca Juga: Sekolah Penerbangan Lhoknga dan Kisah Pilot Aceh Generasi Pertama

Veltman dan pasukannya kemudian meniggalkan Pocut Di Biheue seorang diri. Veltman ingin agar Pocut Di Biheue yang sekarat itu meninggal bisa menghembus nafasnya di hadapan bangsanya sendiri.

Namun dugaan Veltman bahwa Pocut Di Biheue akan meninggal karena lukanya itu ternyata meleset. Beberapa hari setelah kejadian itu, Veltman bersama pasukannya kembali patroli ke kawasan Keude Biheue, antara Sigli dan Padang Tiji mendengar bahwa Pocut Di Biheue bukan saja masih hidup, tapi juga berencana untuk kembali menyerang patroli Belanda.

Dalam Prominent Women in The Glimpse of History (Wanita-wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah) riwayat singkat dan asal usul Pocut Di Biheue dijelaskan oleh T Ibrahim Alfian dkk. Dalam buku yang diterbitan Bank Exim pada tahun 1994 itu dijelaskan, Pocut Di Biheue merupakan keturunan keluarga Bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh.

Baca Juga: Kisah Remaja Aceh Membunuh Controleur Belanda

Ayahnya Keujruen Biheue berasal dari keturunan Pocut Bantan. Keterangan itu sesuai dengan keterangan Veltman dalam “Nota over de Geschiedenis van het Landscap Pidie (1919). Keteragan lainnya juga diungkap Zentgraaff, dalam buku Atjeh, terbitan Beuna, Jakarta, 1983 terjemahan Aboe Bakar. Selain itu, Aboe Bakar juga mengambil sumber dari De Atjeh-Oorlog, yang ditulis Paul Van’t Veer yang memuat tentang Koloniaal Verslag, 1905, terbitan Uitgeverij De Arbeiderspres, Amsterdam 1969.

Dari beberapa sumber yang jadi rujukan Aboe Bakar itu disebutkan, suami Pocut Di Biheu bernama Tuanku Abdul Majid, putra Tuanku Abbas bin Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah. Tuanku Abdul Majid merupakan salah seorang anggota keluarga Sultan Aceh yang tidak mau berdamai dengan Belanda. Ia gigih melawan Belanda di Selat Malaka sekitar Laweung dan Batee, yang kerap menyerang kapal-kapal dari maskapai berbendera Beanda. Karena itu pula ia dicap Belanda sebagai Zeerover, yakni perompak laut.

Sebutan itu dipopulerkan oleh  C Snouck Hourgronje dalam buku De Atjeher, untuk memojokkan orang Aceh dengan sebutan perompak dan pengganggu keamanan kapal-kapal yang melewati Selat Malaka. Padahal apa yang dilakukan Tuanku Abdul Majid sesuai dengan tugasnya dari Kesultanan Aceh, yakni sebagai pejabat kesultanan yang ditugaskan untuk mengutip bea cukai di Pelabuhan Kuala Batee.

Baca Juga: Kempes dan Tragedi Pembantaian di Kuta Reh

Dari perkawinan dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Muerah Intan memperoleh tiga orang putra yaitu Tuanku Muhammad yang dipanggil Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin. Dalam Koloniaal Veslag  tahun 1905 diriwayatkan, Pocut Di Biheue merupakan figur dari keluarga kerajaan Aceh yang paling anti terhadap Belanda. Ia satu-satunya  tokoh dari kalangan Kesultanan Aceh yang tidak tunduk pada Belanda hingga tahun 1904.

Suatu ketika dalam tahun dan tangal yang tak disebutkan, Tuanku Abdul Majid ditawan Belanda. Hal itu tidak menyurut langkan Pocut Di Biheue untuk melanjutkan perlawanannya. Ia mengajak serta ketiga puteranya untuk terus melawan Belanda di daerah kekuasaannya di Biheue. Mereka berperang secara gerilya. Dua dari tiga putra Pocut Di Biheue kemudian terkenal sebagai pemimpin perlawanan yang menjadi buronan Belanda yakni Tuanku Muhamamad Batee dan Tuanku Nurdin.

Baca Juga: Belanda Provokasi Sentimen Anti Cina di Aceh

Belanda bersama pasukan marsosenya terus menyerang Biheue dan wilayah XII Mukim, Pidie dan sekitarnya. Namun gagal menemukan Pocut Di Biheue bersama putra-putranya itu. Sejumlah perwira Belanda bersama pasukannya ditugaskan ke Pidie untuk melacak keberadaan Pocut Di Biheue.

Doup, penulis Belanda dalam tulisannya, Gedenkboek van het Marechausse van Atjeh en Onderhoorigheden (1940), menulis sejumlah nama komandan pasukan marsose yang bertugas melacak dan mengejar kedua putra Pocut Di Biheue itu. Para komandan marsose yang kebagian tuga itu antara lain Letnan J J Burger, Letnan Jhr J J Boreel, dan Sersan Feenstra.[]

Baca Juga: Kisah Pasukan Cut Ali Menewaskan Kapten Paris

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

MINGGU INI

© Jasa Web Design Banda Aceh : Gamiah