24.7 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

28 September 1945: Kisah Spionase Pemuda Aceh ke Markas NICA

Pada 28 September 1945, Azhar Azis, seorang pemuda Aceh dari Ikatan Pemuda Indonesia (IPI) Banda Aceh, dikirim ke markas tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie atau Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) di Sabang untuk melakukan spionase.

Azhar Aziz yang fasih berbahasa Inggris dan Belanda, menyamar ke markas NICA untuk melakukan spionase, tentang rencana Belanda menyerang Aceh, setelah Pulau Weh, Sabang diserahkan oleh Jepang kepada Sekutu/NICA sebulan sebelumnya, yakni pada 25 Agustus 1945.

Belanda akan menyerang Aceh untuk menaklukkan kembali seluruh wilayah Republik Indonesia yang baru memproklamirkan kemerdekaan. Aceh merupakan satu-satunya wilayah republik yang tidak bisa dimasuki Belanda pada agresi kedua tersebut.

Baca Juga: Kempes dan Tragedi Pembantaian di Kuta Reh

Untuk memata-matai pergerakan dan rencana tentara Belanda dan sekutunya Inggris di Sabang itu, Azhar Aziz mengemban tugas spionase di pulau paling barat Sumetera tersebut. Ia berhasil menyelundup ke markas NICA dan bekerja sebagai jongos di sana.

Teuku Alibasjah Talsya dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan mengungkapkan, dalam menjalankan aksinya spionase tersebut, Azhar Aziz benar-benar mampu menyembunyikan identitasnya sebagai pemuda terpelajar. Ia berlagak seperti orang dungu dan berhasil bekerja pada seorang perwira Belanda.

Kesempatan tersebut dipakai untuk mendengar setiap pembicaraan “tuannya” dengan para pejabat militer, khususnya tentang rencana penyerangan Aceh. Ia juga berhasil membawa masuk beberapa kawannya untuk bekerja di sana, baik sebagai tukang kebun, tukang masak, bahkan pesuruh, salah satu kawannya itu adalah Mohammad Junus yang dipercayakan sebagai krani.

Baca Juga: Kisah Remaja Aceh Membunuh Controleur Belanda

Azhar Aziz yang melakukan spionase di markas NICA membocorkan informasi bahwa pasukan 26th Indian Division yang dipimpin Mayor Jenderal HM Chamber telah ditugaskan untuk menduduki Sumatera. Berita itu diperkuat dengan selebaran yang dijatuhan (disebarkan) dari udara oleh pesawat Belanda.

Untuk menghadapi kemungkinan masuknya Belanda dan sekutunya ke Aceh, rakyat Aceh terus memperkuat angkata bersenjata Angkatan Pemuda Indonesia (API) dengan senjata-senjata rampasan dari Jepang.

Sepanjang jalan utama di Banda Aceh di dinding-dinding bagunan digrafiri semboyan-semboyan perjuangan oleh para pemuda. Grafiti tersebut isinya seperti : Medeka 100 Persen, Merdeka atau Mati, Berjuang dan Syahid di Jalan Allah. Selebaran-selebaran dengan isi senada juga ditempelkan di pohon-pohon dan bangunan di jalan-jalan protokol.[]

Baca Juga: Siasat Kawat Palsu Pemuda Aceh Untuk KNIL

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI