26.1 C
Banda Aceh
spot_img
spot_img

TERKINI

POPULER

© Jasa Web Design Banda Aceh : Creatv.id

Baitul Asyi dan Kedermawanan Habib Bugak Bagi Jamaah Haji Aceh

spot_img

Habib Bugak Asyi bernama asli Habib Abdurrahman Bin Alwi Al Habsyi mewakafkan tanahnya di Arab Saudi kepada masyarakat Aceh pada 18 Rabiul Akhir 1224 Hijriah, dikenal sebagai Teungku Syik Monklayu.

Habib asal Aceh yang kaya raya tersebut mewakafkan tanah yang pada awalnya berada di daerah Qusyasyiah, antara tempat sa’i dengan Masjidil Haram. Habib mewakafkan tanah itu agar jamaah haji asal Aceh tidak terlunta-lunta saat melaksanakan ibadah haji. Di hadapan hakim Mahkamah Syariah, Habib menyatakan keinginannya itu. Tanah itu selain digunakan untuk jamaah haji asal Aceh, ia juga mengatakan rumahnya bisa ditempati oleh orang Aceh yang berada di Mekkah.

Namun karena perluasan Masjidil Haram pada tahun 1950-an, tanah tersebut digusur. Pemerintah Arab Saudi membayar sejumlah ganti rugi. Uang pengganti itu diterima oleh Nazhir (badan pengelola) tanah wakaf yakni keturunan dari nazhir pertama yang ditunjuk Bugak Asyi, Syeikh Muhammad Shalih bin Abdussalam Asyi. Ia kemudian membeli dua lokasi tanah di daerah Jiad dekat Masjidil Haram.

Baca Juga: Awal Mula Hubungan Militer Aceh Dengan Turki

Awalnya, jamaah haji asal Aceh tidak leluasa menempati rumah di Baitul Asyi karena sistem Syeikh ke Maktab (muasassah) terbentur dengan sistim penyelenggaraan haji pemerintah Indonesia.  Dalam sistim Syeikh rumah disediakan oleh Syeikh, dan pemerintah Indonesia membayar rumah kepada Syeih, maka dalam sistem maktab, pemerintah Indonesia yang meyewa rumah. Baru setelah itu, pemerintah menyerahkan kepada Syeikh bersama dengan jemaah yang akan menempatinya untuk diurus oleh maktab.

Masalah ini menimbulkan kerancuan bagi pengelola wakaf, sehingga mereka kemudian membicarakannya dengan pemerintah Indonesia. Upaya ini tidak mulus. Karena terhalang kebijakan perhajian yang dibuat oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Arab Saudi ketika itu, yang tidak memberi peluang untuk keterlibatan pihak swasta.

Baru pada akhir tahun 1990-an, masalah ini ada jalan keluarnya, yakni, Nazhir diberi tugas untuk mengembangkan wakaf. Dan melalui pembicaran dengan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Menteri Agama Indonesia, dan Gubernur Aceh, disepakati bahwa untuk jangka panjang, Nazhir akan membangun rumah di Mekah yang dapat menampung semua jemaah haji asal Aceh.

Baca Juga: Kekuatan Armada Perang Aceh Dalam Sejarah

Namun, sebelum rumah tersebut selesai dibangun, maka Nazhir akan memberikan pengganti uang sewa rumah kepada jemaah haji asal Aceh. Besarnya uang penggantian itu, sebesar sewa yang diberikan pemerintah Indonesia kepada pemilik rumah, yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan Nazhir. Tahun 2008, dua dari tiga lokasi tanah yang dikelola Nazhir tengah direnovasi oleh dua investor. Kedua bangunan yang hanya berjarak sekitar seratus meter satu dan lainnya.

Habib Bugak Asyi atau Habib Abdurrahman Bin Alwi Al Habsyi, pada masa kesutanan Aceh ia mendapat berbagai gelar kehormatan, diantaranya: Teungku Syik Monklayu, Bentara Laksamana Di Monklayu, Teungku Habib, Qadhi, Imum dan Khatib, serta Waly al-Amri bi al-Darrury Wa al-Syaukah (Wakil Sultan Urusan Keagamaan dan Administrasi)

Tim Acheh Red Cressent dan Hilmy Bakar yang melalukan penelitian Hubungan Aceh-Arab Pasca Penyebaran Islam menulis, dua tokoh Aceh, Dr. Al Yasa’ Abubakar (saat itu Kepala Dinas Syariat Islam) dan Dr Azman Isma’il, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh) telah mengeluarkan surat pernyataan tentang asal muasal Waqaf Habib Bugak Asyi. Haji Habib Bugak mewakafkan sebuah rumah di Qusyasyiah, tempat antara Marwah dengan Masjidil Haram Mekkah dan sekarang sudah berada di dalam masjid dekat dengan pintu Bab al Fatah.

Baca Juga: Awal Mula Perang Aceh Dengan Portugis

Menurut akta ikrar Waqaf yang disimpan dengan baik oleh Nadzir, waqaf tersebut diikrarkan oleh Habib Bugak Asyi pada tahun 1224 Hijriyah (sekitar tahun 1800 Masehi) di depan Hakim Mahkamah Syar’iyah Mekkah. Di dalamnya disebutkan bahwa rumah tersebut diwaqafkan untuk penginapan orang yang datang dari Aceh untuk menunaikan haji, serta orang Aceh yang menetap di Mekkah.

Habib Bugak telah menunjuk Nadzir (pengelola) salah seorang ulama asal Aceh yang telah menetap di Mekkah. Nadzir diberi hak sesuai dengan tuntunan syariah Islam. Pada tahun 1420 H (1999 M) Mahkamah Syar’iyah Mekkah mengukuhkan Syekh Abdul Ghani bin Mahmud bin Abdul Ghani Asyi (generasi keempat pengelola wakaf) sebagai Nadzir yang baru. Sejak tahun 1424 H (2004 M) tugas Nadzir dilanjutkan oleh sebuah tim yang dipimpin anak beliau Munir bin Abdul Ghani Asyi (generasi kelima) serta Dr. Abdul Lathif Baltho.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

MINGGU INI

© Jasa Web Design Banda Aceh : Gamiah