26.7 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

POPULER

Dvornikov sang “Tukang Jagal” Pimpin Strategi Perang Baru Rusia di Ukraina

BANDA ACEH | ACEH INFO – Dia dijuluki “tukang jagal” Aleppo dan Grozny. Pria itu juga pernah dianugerahi medali Pahlawan Rusia pada 2016. Namanya Aleksandr Dvornikov.

Julukannya sebagai “tukang jagal” melekat sejak era perang Checnya kedua. Lakap itu kian menguat dalam perang di Aleppo, Suriah, menurut keterangan mantan Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, Letnan Jenderal Ihor Romanenko.

Aleksandr Dvornikov baru-baru ini ditunjuk sebagai panglima tertinggi pasukan Rusia di Ukraina. Dia pernah memimpin divisi senapan motor Rusia untuk menyerbu Grozny, ibu kota Checnya di selatan Rusia pada akhir 1999 dan awal 2000.

Pasukan yang dipimpinnya pernah memborbardir kota sebelum bergerak dalam kelompok infanteri kecil. Dalam melakukan serangan, pasukan ini juga diduga menembak siapa pun yang ada di hadapannya.

Dalam serangan tersebut, Rusia disebut meluncurkan bom artileri, bom cluster yang dilarang, dan juga rudal jelajah. Serangan tersebut membunuh ribuan warga sipil dan pernah meratakan Grozny.

Kota itu jatuh pada 6 Februari 2000 yang mendongkrak elektabilitas Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin. Kelak keberhasilan serangan itu juga membuat Putin terpilih sebagai Presiden Rusia kurang dari satu bulan kemudian.

Rusia disebut menggunakan taktik serupa di Kota Mariupol, Ukraina bagian selatan yang saat ini dalam kondisi terkepung. Pejabat Ukraina menuduh Rusia telah membunuh ribuan warga sipil dan merusak serta menghancurkan hampir setiap bangunan yang dijumpainya.

Menghapus Aleppo

Dvornikov juga pernah dipercaya memimpin pasukan Rusia di Suriah pada 2015. Penempatan si “tukang jagal” ini berhasil menyelamatkan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad dari kehancuran. Mereka juga berhasil mengambil alih Aleppo dari oposisi.

Dvornikov diduga menjalankan taktik serupa dengan Grozny ketika ditempatkan di Aleppo.

“Tidak ada yang menghentikannya. Dia berpegang pada cara Soviet dan kemudian Rusia—yang jika memiliki kekuatan, mereka akan dikonsentrasikan dan digunakan untuk menghancurkan segalanya,” kata Romanenko.

“Kami telah melihat hasilnya di Aleppo,” katanya lagi.

Namun, siasat itu tampaknya tidak akan berhasil diterapkan di Ukraina bagian utara dan tengah. Hal itu disebabkan medan pertempuran yang berbeda, di mana wilayah itu merupakan kawasan hutan.

Selain itu, pasukan Ukraina juga berani melakukan serangan. Strategi ini juga tidak berhasil dilakukan karena Rusia tidak memiliki cukup logistik serta moral pasukan yang rendah. Inilah yang membuat Rusia gagal menuju Kyiv, kata Romanenko.

Rusia mengalami kerugian besar dan memalukan atas serangan tersebut. Akhirnya mereka menarik diri dari wilayah Kyiv, Chernihiv dan Sumy pada awal April. Namun, Ukraina selatan berbeda karena bentang alamnya didominasi oleh stepa. Moskow tampaknya akan menggunakan taktik yang sama lagi untuk wilayah tersebut.

Pendukung Pemberontak

Putin menempatkan Dvornikov sebagai penanggung jawab Distrik Militer Selatan Rusia untuk mendukung separatis melawan Ukraina di provinsi tenggara Donetsk dan Luhansk, pada 2016.

Pos ini mencakup pangkalan-pangkalan Krimea dan Rusia yang dianeksasi di wilayah-wilayah separatis Georgia di Ossetia Selatan dan Abkhazia. Namun, Rusia membantah kehadiran mereka di wilayah tersebut.

Perang itu menjadi konflik terpanas di Eropa dan menewaskan lebih dari 13.000 orang.

Pada saat Dvornikov pindah ke markas barunya di kota Rostov-on-Don Rusia selatan, fase aktif perang telah berakhir dan berubah menjadi konflik parit.

Dvornikov, seperti dilansir Al Jazeera, masih memperoleh pengetahuan mendalam tentang Ukraina dan bertanggung jawab untuk membentuk Pasukan Gabungan Pengawal Kedelapan, reinkarnasi dari kekuatan militer Perang Dunia II.

Dvornikov juga dituding menjadi dalang insiden di Laut Azov pada 2019. Insiden itu terjadi di perairan dangkal di timur laut Krimea, di mana kapal-kapal Rusia memblokir dan menyita tiga kapal angkatan laut Ukraina yang mencoba memasuki perairan tersebut. Moskow juga menangkap 24 pelaut Ukraina yang selanjutnya ditahan selama hampir 10 bulan.

Insiden ini membuat Dvornikov masuk dalam daftar hitam pejabat Rusia versi Uni Eropa pada tahun 2019. Namun ketika mendapat hukuman dari Barat, Putin justru mengapresiasi Dvornikov dan menggelar serangkaian latihan militer yang luas dan mengesankan.

Dia memimpin latihan militer raksasa Kaukasus 2020 di sebelah perbatasan Ukraina. Latihan tersebut melibatkan puluhan ribu tentara dari Rusia dan bekas republik Soviet dan diadakan di sekitar 30 lokasi di Rusia, Krimea yang dicaplok, dan Armenia.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

MINGGU INI