Newspaper Theme
Newspaper Theme

INFO POPULAR

Geudeu-geudeu Gulat Tradisional dari Meureudu

Sponsored by

BANDA ACEH | INFO ACEH – Dua orang lelaki berbadan tegap menggunakan ikat pinggang hijau, terlihat mengadang seorang pria. Ketiga orang yang bertelanjang dada dan memakai bawahan hitam itu berputar-putar di dalam lingkaran putih, di sebuah lapangan. Si pria yang mengenakan sabuk merah tak berselang lama berhasil dibekuk dua pria berikat pinggang hijau. Seketika dua pria lain yang menggunakan baju biru datang memisahkan ketiganya.

Lakon kelima pria tersebut merupakan salah satu adegan dalam olahraga Geudeu-geudeu yang ada di Meureudu, Pidie Jaya. Olahraga beladiri ini merupakan seni tradisional masyarakat setempat yang disebut-sebut berasal dari era kerajaan.

Geudeu-geudeu hampir serupa dengan permainan Sumo, yaitu gulat ala Jepang. Namun, bedanya, jika gulat di Jepang hanya melibatkan dua orang dalam sebuah permainan. Berbeda dengan geudeu-geudeu yang dimainkan oleh tiga orang pria seperti ilustrasi yang disebutkan di awal tulisan. Dua orang di antaranya berperan sebagai “awak pok” sementara satu lainnya adalah “awak tueng”.

Saat bermain, awak pok berusaha untuk menjatuhkan, membanting lawan, atau menangkap dan mengangkat sehingga kedua telapak kaki tidak tersentuh tanah. Mereka tidak boleh memukul awak tueng yang menjadi lawannya. Sementara awak tueng berusaha menghindari supaya tidak terjatuh, alih-alih dibanting. Bermain sendiri, awak tueng diperbolehkan membanting lawan bahkan memukul dengan tangan lurus.

Geudeu-geudeu Gulat Tradisional dari Meureudu
Geudeu-geudeu. Foto: Joni Saputra

Geudeu-geudeu yang masuk dalam kategori permainan ekstrem ini dipimpin oleh seorang wasit. Biasanya pertunjukkan geudeu-geudeu juga dipertontonkan untuk publik dan dihelat di lapangan terbuka. Permainan geudeu-geudeu acap kali berlangsung selepas panen padi dan di malam bulan purnama. Ini pula yang menyebabkan jerami padi menjadi matras alami dalam olahraga tradisional asal Meureudu ini.

Olahraga geudeu-geudeu hingga saat ini belum masuk dalam cabang olahraga prestasi yang diikutsertakan dalam even nasional. Akan tetapi, permainan asal Meureudu yang juga sering disebut deu-deu ini kerap dimainkan di daerah ibukota Pidie Jaya.

Dari keterangan Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh, permainan geudeu-geudeu juga dilengkapi dengan empat juru pemisah. Mereka disebut “ureung seumubla” alias juri dalam bahasa Indonesia. Ke empat orang tersebut biasanya berdiri selang-seling untuk mengawasi setiap pemain.

Geudeu-geudue kini nyaris terlupakan di Aceh. Permainan ini dapat berakibat fatal bagi para pemain lantaran dapat menyebabkan patah tulang, cidera dan luka bahkan juga menimbulkan kematian. Permainan geudeu-geudeu pernah kembali dipopulerkan oleh almarhum Gade Salam masa menjadi Bupati Pidie Jaya. Geudeu-geudeu juga baru bisa disaksikan empat tahun sekali dalam ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), khusus di stand Pidie Jaya.[]

EDITOR: BOY NASHRUDDIN AGUS

Newspaper Theme

TERKINI