28.2 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

IKAT Aceh dan BI Gelar Diseminasi Blueprint dan Roadmap Pengembangan Ekonomi Syariah

spot_img

BANDA ACEH | ACEH INFO – Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh atas dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh menggelar acara Diseminasi Blueprint dan Roadmap Pengembangan Ekonomi dan Syariah Provinsi Aceh.

Kegiatan tersebut berlangsung, Kamis, 1 November 2022, di Auditorium Teuku Umar, Bank Indonesia Provinsi Aceh, Banda Aceh.

Pada diseminasi tersebut, pemaparan disampaikan oleh Damanhur Abbas. Sementara penanggap, M. Shabri Abd. Majid dan Mohd Heikal dengan moderator Dinaroe.

Ketua IKAT Aceh Tgk Muhammad Fadhillah, menyampaikan acara diseminasi ini merupakan tindak lanjut dari acara sebelumnya yaitu Aceh Shariah Economic Forum (ASEF) beberapa bulan lalu.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Bapak T. Amir Hamzah saat membuka acara diseminasi tersebut, mengatakan Aceh perlu pengoptimalan potensi dalam mengembangkan ekonomi syariah.

“Provinsi Aceh memiliki potensi yang sangat luar biasa, potensi tersebut perlu dioptimalkan dan disesuaikan dengan syariat Islam,” ucapnya.

Ia mengharapkan, Blueprint dan Roadmap ini dapat membawa kebaikan untuk masyarakat Aceh dalam meningkatkankan roda perekonomian Aceh. Sehingga dapat mengurangi kemiskinan, dan kelak Aceh dapat menjadi pusat pembelajaran bagi daerah-daerah lain yang ingin mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah.

Pada kesempatan itu, Damanhur yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Perancangan Blueprint Ekonomi Syariah Provinsi Aceh, banyak menyampaikan gagasan penting untuk perkembangan ekonomi syariah di Aceh.

Damanhur mengungkapkan Aceh sebagai pilot projek proyek nasional mulai dari MPU, Bappeda, Bank Pembangunan Aceh dan Bank Syariah, masih banyak potensi lain yang perlu digali untuk mengaktualisasikan nilai-nilai syariat Islam baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam agenda pembangunan Aceh.

Pilar ekonomi Islam yang disusun dalam buku Blueprint dan Roadmap mengacu pada skala nasional yang coba diturunkan dalam kekhususan Aceh. Pada pilar pertama membahas pemberdayaan ekonomi syarah, pilar kedua tentang lembaga keuangan Syariah dan pilar ketiga tentang riset dan asesmen serta edukasi.

Ia menjelaskan, masjid pusat peradaban dan perekonomian pada pilar pertama kita memasukkan pemberdayaan ekonomi masjid dan ekonomi dayah sebagai keistimewaan Aceh. Damanhur menyarankan agar Aceh tidak hanya menjadikan masjid sebagai tempat ibadah saja melainkan sebagai pusat peradaban dan perekonomian seperti yang dicontohkan Nabi SAW dahulu.

“Masjid itu harusnya sebagai pusat peradaban dan roda perekonomian,” katanya.

Damanhur mencotohkan Masjid Oman sudah mempunyai beberapa sumber perekonomian seperti hotel, ATM beras. Seharusnya masjid menjadi sebagai Market Place sebagaimana yang sedang diinisiasi di Masjid Baiturrahman Lhokseumawe.

Menurutnya, Market Place yang dimaksud menjadi titik temu kebutuhan umat Islam bukan hanya kebutuhan barang, namun juga bisa kebutuhan jasa tukang dan lain-lainnya.

Dalam pemaparannya itu, ia juga menyarankan agar Pemerintah Aceh membangun kawasan industri, sesuai dengan potensi wilayah masing-masing, hal ini penting. Sebab ikan tongkol di wilayah pesisir pada saat panen besar tidak terkondisikan mengakibatkan harga turun drastis, sudah saatnya Aceh harus memiliki cold storage yang dapat mengahasilkan beberapa produk turunan.

Ia juga mengatakan kebutuhan rakyat Aceh akan telur saja mencapai 1,3 juta per harinya, sehingga pemerintah perlu membangun industri pakan, industri ayam petelur dan industri lahan pertanian untuk pakan,” ungkapnya.

Diseminasi ini turut menghadirkan dua penanggap yakni M. Sabri Abdul Majid, yang memberikan tanggapan diantaranya optimalisasi dana sosial. Karena, dana sosial merupakan potensi yang sangat luar biasa, Ketika kita bercerita mengenai dana sosial bukan hanya pada taraf kesalehanan individu,namun pada tataran kesalehan corporate.

Selanjutnya, penanggap kedua yakni Moh Heikal, yang memberikan masukan jangan bangga karena kita yang pertama namun bagaimana mengisi ekosistem ekonomi syariah itu jauh lebih penting.

Sehingga, katanya, syariat tidak hanya dipahami dengan hukum cambuk, namun nilai-nilai ekonomi akan menjadi paradigma baru bagi masyarakat Aceh jika ditanyakan tentang Syariat.

Apalagi, APBA yang melimpah tidak membuat masyarakat Aceh keluar dari kemiskinan, berarti ada yang salah dari umat Islamnya sehingga keberkahan tidak turun dari langit.

Moh Heikal berharap Blueprint dan Roadmap ini dapat diimplementasikan dengan baik sesuai target oleh semua pihak yang berkepentingan.

“Blueprint dan Roadmap diharapkan dapat diimplementasikan dengan baik sesuai target, dengan dukungan dan Political Will dari semua pemangku kepentingan, demi penguatan ekonomi dan keuangan syariah di Aceh,” tukasnya.

Pada acara itu juga dihadiri tokoh ekonomi syariah Aceh lainnya seperti Hafas Furqani, Muhammad Riza Nurdin, Anggi Azzuhri, Muhammad Fadhilah, Faisal Yunus dan Ziaulhaq.[]

 

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI