24.7 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

Ini Sanksi ke Tentara dan Polisi di Tragedi Kanjuruhan

JAKARTA|ACEHINFO-Perlakuan aparat yang tampak arogan dalam pengamanan pertandingan sepakbola antara Arema Malang vs Persebaya Surabaya yang menyebabkan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang menjadi sorotan publik. Sejumlah sanksi menanti mereka.

Mabes Polri mengumumkan untuk mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dari jabatannya buntut peristiwa itu. Pencopotan itu sesuai perintah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Kadiv Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, 28 orang personel Polri yang terlibat pengamanan laga tersebut juga diduga melanggar kode etik.

“Dari hasil pemeriksaan Biro Paminal adanya dugaan pelanggaran kode etik sebanyak 28 orang personel Polri,” kata Dedi, di Mabes Polri, Senin (3/10) malam.

Dedi menyebut Kapolri memerintahkan agar tim yang dibentuk untuk mengusut kasus dugaan pelanggaran kode etik bekerja cepat.

“Sebagaimana perintah Kapolri kita akan bekerja cepat,” sebutnya.

Tidak hanya anggota Polri, tentara yang terlibat aksi pemukulan terhadap suporter Arema Malang juga terancam sanksi. Panglima TNI Jenderal Andika perkasa sebelumnya berjanji akan memproses dugaan kekerasan tersebut sebab aksi oknum itu dianggap sudah berlebihan.

“Itu termasuk bagi saya masuk ke tindak pidana,” ujar Andika di Kantor Kemenkopolhukam.

Andika bilang, apa yang dilakukan oknum TNI itu bukan sebuah bentuk mempertahankan diri. Sebab aksi oknum TNI tersebut dianggap tidak mencerminkan aturan standar operasional prosedur (SOP) TNI dalam menangani massa.

“Yang terlihat viral kemarin itu bukan dalam rangka mempertahankan diri atau semisalnya, bukan,” katanya.

Dia berkomitmen akan memproses pidana oknum yang terlibat dugaan kekerasan terhadap suporter di Kanjuruhan itu.

“Ini bukan etik, tapi pidana. Jadi kita tidak akan mengarah pada disiplin tetapi pidana. Karena itu sudah sangat berlebihan,” ujarnya.

Keos setelah berakhirnya laga Arema vs Persebaya itu terjadi usai laga usai pada Sabtu malam (1/10). Pendukung Arema memaksa masuk ke lapangan karena tak puas dengan hasil pertandingan.

Polisi dan tentara yang mengamankan pertandingan berupaya menghalau massa keluar. Bahkan petugas menembakkan gas air mata yang seharusnya dilarang ada di stadion sepakbola.

Banyak penonton terinjak-injak karena berusaha untuk menyelamatkan diri keluar dari stadion. Beberapa penonton mengalami sesak napas setelah menghirup gas air mata.

Setidaknya 448 orang menjadi korban, dimana 125 orang diantaranya meninggal dunia. Ini menjadikan peristiwa di Kanjurahan masuk sebagai tragedi terkelam dalam sejarah sepakbola.[]

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI