27.1 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

POPULER

Interprofesional: Kerja Kolaboratif Penanganan Pasien

Oleh: Rizqi Syahputri Zain*

Pelayanan kesehatan tidak hanya melakukan komunikasi satu arah dengan pasien, tapi memberikan informasi dan edukasi sesuai masalahan yang dialami pasien.

Konsep pelayanan kesehatan sudah bergeser dari medical centered care, yang berfokus pada pelayanan medis, menjadi patient centered care sebagai pelayanan yang berfokus pada pasien. Patien centered care yang saat ini diterapkan pada fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia, telah membuat perubahan pada sistem pelayanan kesehatan, sehingga memerlukan konsep perawatan pasien yang lebih inovatif dan efisien.

Hal ini membutuhkan kompetensi utama seperti komunikasi yang efektif, kerjasama tim dan praktik kolaborasi interprofessional antara profesional kesehatan. Patient centered care merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang menciptakan hubungan kerjasama yang baik antara praktisi kesehatan, pasien, dan keluarga pasien untuk menjamin bahwa keputusan yang dibuat menghormati keinginan, kebutuhan, pilihan pasien, sehingga menjamin pasien mendapatkan pengetahuan serta mendukungnya mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam perawatan kesehatan.

Dalam konsep ini, pelayanan kesehatan tidak hanya dengan melakukan komunikasi satu arah dengan pasien, tapi memberikan informasi dan edukasi sesuai permasalahan pada setiap pasien, memperhatikan kebutuhan pasien sebagai individu, memberikan dukungan emosional dan memberikan kenyamanan fisik, mulai dari masuk rumah sakit sampai perawatan lanjutan yang diperlukan.

Permasalahan kesehatan yang sangat kompleks tidak dapat ditangani hanya oleh satu profesi medis, melainkan harus melibatkan kolaborasi dengan berbagai profesi lainnya atau biasa disebut praktik kolaborasi interprofesional (Interprofesional Colaborative Practice / IPCP).

Praktik kolaboratif dalam pelayanan kesehatan terjadi ketika banyak petugas kesehatan dari latar belakang profesional yang berbeda memberikan layanan terkoordinasi yang komprehensif kepada pasien, keluarga/pengasuh pasien, dan masyarakat untuk mencapai kualitas kesehatan yang optimal.

Latar belakang profesional kesehatan yang berkolaborasi dapat berasal dari dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, ahli fisioterapi, psikolog, ahli kesehatan masyarakat dan profesi kesehatan lain. Praktik kolaboratif yang efektif dan pelayanan kesehatan yang optimal akan memperkuat sekaligus meningkatkan derajat dan sistem kesehatan nasional.

Pelatihan atau pendidikan interprofessional; dukungan kelembagaan seperti tata kelola, protokol terstruktur, standar operasional prosedur, ketersediaan ruang dan waktu; dukungan budaya kerja berupa strategi koordinasi dan komunikasi; dukungan profesional seperti minat/kemauan bersama, kepercayaan, dan pemahaman peran; dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah; serta pendanaan kesehatan nasional jangka panjang yang merupakan faktor-faktor utama yang dapat berkontribusi pada keberhasilan penerapan praktik kolaboratif interprofessional ini.

Dalam praktik keseharian mungkin masih sering ditemukan kejadian tumpang tindih pada tindakan pelayanan kesehatan, ini diakibatkan kurangnya komunikasi antar tenaga kesehatan dalam kerjasama tim. Kurangnya komunikasi dalam memberikan pelayanan ini dapat berakibat fatal bagi pasien, seperti terlambat dalam memberikan penanganan yang tepat, sehingga berpengaruh pada hasil akhir. Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, kemampuan kolaborasi interprofesional tenaga kesehatan perlu ditingkatkan melalui strategi pendidikan interprofesional (Interprofessional Education).

Interprofessional Education (IPE) merupakan proses pembelajaran antara multi-profesi atau berbagai mahasiswa tenaga kesehatan dengan berbagai latar belakang pendidikan yang berinteraksi dan berkolaborasi untuk menghasilkan dan menyediakan pelayanan kesehatan yang promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Manfaatnya antara lain untuk meningkatkan kerjasama tim, kepercayaan, saling menghormati, pemahaman tentang peran dan tanggung jawab profesi kesehatan lain, membentuk komunikasi yang efektif, memanajemen konflik, melatih kepemimpinan dan kemampuan pengambilan keputusan, berbagi pengetahuan dan keterampilan, meningkatkan kompetensi dan rasa percaya diri, meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi lama hari rawatan pasien, serta mengurangi medical errors.

Kuliah bersama, studi kasus, diskusi berbasis web, pembelajaran layanan masyarakat/pengabdian masyarakat, praktik klinik, interaksi dengan simulasi, konferensi kasus berbasis tim, diskusi berbasis seminar, dan bermain peran merupakan beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam IPE. Proses belajar bersama juga bisa dilakukan pada saat orientasi mahasiswa baru dan dalam kegiatan organisasi mahasiswa. Pelaksanaan IPE diawali dengan adanya komitmen antar institusi pendidikan profesi kesehatan, tersedianya SDM yang kompeten, fasilitas fisik, standar pelaksanaan program IPE, modul pembelajaran dan standar evaluasi program. Diperkuat dengan adanya regulasi pemerintah dan kekuatan hukum.

IPE membuat tenaga kesehatan lebih siap untuk melakukan kerja kolaboratif karena dapat membentuk kepercayaan diri yang lebih besar serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk praktik kolaborasi interprofesional, sehingga dapat mengoptimalkan pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien.

Seiring dengan perkembangan zaman, perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan tidak dapat dihindari, sehingga kolaborasi antara tenaga kesehatan secara profesional akan menjadi kebutuhan dan pendidikan interprofesional merupakan suatu keharusan.[]

*Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

MINGGU INI