30.4 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

POPULER

© Jasa Web Design Banda Aceh : Creatv.id

Kisah Pocut Di Biheue Melawan 18 Tentara Marsose

Seorang diri ia melawan 18 tentara marsose. Tubuhnya ditinggalkan penuh luka di tengah jalan. Belanda pun menaruh hormat padanya. Ia  dijuluki Heldhaftig, perempuan yang gagah berani.

Dalam buku Prominet Women In The Glimpse of History dijelaskan, Pocut Di Biheu bernama asli Pocut Meurah Intan. Kata Pocut pada namanya menunjukkan bahwa ia keturunan bangsawan. Sementara kata Biheue di ujung namanya merupakan nama daerah tempat tinggalnya.

Jadi, nama Pocut Di Biheue menunjukkan, Pocut Meurah Intan merupakan anak perempuan dari bangsawan (uleebalang) Biheue. Kini Biheuen secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Sebelumnya, pada masa Kerajaan Aceh, Biheue masuk dalam wilayah Sagoe XXII Mukim, Aceh Besar.

Baca Juga: Heroisme Teuku Nyak Makam Panglima Aceh yang Dipancung Belanda

Belanda menyebut Pocut Di Biheue sebagai heldhaftig, perempuan yang gagah berani. Pujian itu sangat beralasan. Suatu ketika Pocut Di Biheue seorang diri kepergok dengan patroli 18 marsose yang dipimpin TJ Veltman. Ia bukan lari, tapi menyerang kawanan tentara elit Belanda itu. “Kalau sudah begini, biarlah saya mati,” teriak Pocut Di Biheue.

Dari pada ditangkap, Pocut Di Biheue lebih memilih menyerang. Ia mengayunkan pedangnya hingga mengenai beberapa marsose. Ia sendiri kena sabetan pedang marsose di kepala dan bahunya, urat keningnya juga putus. Tubuhnya rebah bersimbah darah.

Seorang marsose meminta izin pada Veltman untuk menembak mati Pocut Di Biheue. Ia ingin mengakhiri penderitaan perempuan tersebut. Tapi Veltman membentak bawahannya itu. Ia membungkuk mengulurkan tangannya, mencoba membantu, namun Pocut Di Biheue meludahi muka Veltman. “Jangan kau pegang aku kafir celaka,” hardiknya.

Mendapat perlakuan seperti itu, Veltman dan pasukannya meninggalkan Pocut Di Biheue yang sekarat seorang diri. Ia beranggapan biarlah perempuan itu meninggal sendiri di hadapan bangsanya.

Baca Juga:Kematian Tragis Tentara Marsose Belanda di Aceh

Namun anggapan Veltman meleset. Ketika ia dan pasukannya kembali patroli dari Sigli ke Padangtiji, ia mendengar Pocut Di Biheue bukan saja masih hidup, tapi berencana menyerang kembali pasukan Belanda bersama para pejuang di wilayah Biheue.

Veltman kemudian menuju kediaman Pocut Di Biheue bersama pasukannya, tapi kali ini bukan untuk menyerang. Ia membawa seorang dokter untuk mengobati Pocut Di Biheue. Namun, Pocut Di Biheue tetap menolak diobati. Ia tak mau tubuhnya dipegang kafir Belanda. “Lebih baik aku mati dari pada disentuh kaphe,” katanya.

Berita itu kemudian sampai kepada Kolonel Scheuer, seorang opsir yang merebut puri Cakra Negara di Lombok. Ia khusus datang dari Lombok (Nusa Tenggara Barat) ke Aceh untuk bertemu dan memberi penghormatan kepada Pocut Di Biheue.

Sampai di Aceh, Berangkatlan Scheuer bersama Veltman dan pasukan pengawalnya ke kediaman Pocut Di Biheue. Scheuer berdiri di sisi Pocut Di Biheue yang masih terbaring sakit. Ia mengangkat tabik, menghormati Pocut Di Biheue.

Baca Juga: 18 Juni 1928 Teuku Nyak Arief Menyampaikan Konsep Negara Indonesia di Volksraad

Tentang sikap Scheuer ini penulis Belanda HC Zentgraaff dalam buku Atjeh menulis, “Scheur mengambil sikap bagai seorang prajurit. Ia mengangkat tabik tanda hormat, dengan meletakkan ujung jari-jarinya di topi petnya. Kemudian berkata pada Veltman yang paham bahasa Aceh, katakan padanya bahwa saya sangat kagum padanya.”

Hari-hari selanjutnya Pocut Di Biheue terus diawasi. Belanda tak ingin perempuan pemberani itu kembali menggerakkan perlawanan. Setelah sembuh ia dipenjara di Kutaradja bersama seorang putranya, Tuwanku Budiman. Sementara putranya yang satu lagi Tuwanku Nurdin terus menggerakkan perlawanan melalui taktik perang gerilya.

Untuk meredakan perlawanan rakyat, serta menghilangkan pengaruhnya, Pocut Di Biheue kemudian diasingkan ke Blora, Jawa Tengah melalui Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No.24, tanggal 6 Mei 1905. Srikandi Aceh itu meninggal di tempat pengasingannya pada 19 September 1937. Jasadnya dimakamkan di desa Temu Rejo, Blora, Jawa Tengah.[]

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI

© Jasa Web Design Banda Aceh : Gamiah

%d blogger menyukai ini: