25.1 C
Banda Aceh
spot_img
spot_img
spot_img

TERKINI

POPULER

© Jasa Web Design Banda Aceh : Creatv.id

Kolone Macan dan Kenduri Tipuan Pang Nanggroe

spot_img

Ketika pasukan kolone macan itu makan hidangan, semua rotan pengikat ditarik, sehingga rumah panggung itu ambruk. Cristoffel dan pasukannya kaget, mereka benar-benar sudah masuk perangkap. Ia dan pasukannya jadi sasaran empuk serangan pasukan Pang Nanggroe.

Pasukan marsose dari kolone macan dikenal sangat beringas. Pada kerah baju mereka diberi tanda tiga jari merah, sebagai tanda kejam dan tanpa kompromi. Di Kereutoe (Lhoksukon) Aceh Utara, pasukan khusus ini terdiri dari 12 brigade, dipimpin oleh Kapten H Christoffel, dibantu oleh bawahannya WJ Mosselman, Van der Vlerk dan Van Slooten.

Christoffel ditugaskan khusus ke Keureutoe untuk mengejar pejuang Aceh dari kelompok Cut Mutia dan suaminya, Pang Nanggroe. Christoffel menyebarkan banyak mata-mata untuk mengendus kelompok pejuang Aceh tersebut.

Baca Juga: Kisah Uleebalang Titeu Membunuh Penguasa Sipil Belanda

Namun, sebanyak Christoffel punya mata-mata, sebanyak itu pula Pang Nanggroe punya informan di sekitar Christoffel. Seperti Christoffel yang tak menyadari adanya mata-mata Pang Nanggroe di sekitarnya, begitu juga Pang Nanggroe. Hal ini membuat tensi perang frontal agak berkurang.

Meski demikian, Pang Nanggroe tidak kehabisan akal. Untuk mengecoh pasukan Christoffel, berita hoax disebarkan kemana-mana. Christoffel dan Mosselman mendapat kabar pasukan Pang Nanggroe sedang menggelar kenduri besar di Gampong Matang Raya. Beberapa mata-mata diutus ke sana. Gelagatnya nyata, penduduk sibuk menyiapkan makanan di sebuah rumah panggung.

Cristoffel termakan dengan hal itu. Ia membawa pasukannya ke sana. Pasukan Pang Nanggroe akan disergap saat pesta kenduri itu. Ketika sampai ke Gampong Matang Raya, mereka langsung menuju rumah yang dimaksud, sesuai dengan petunjuk dari informan mereka.

Baca Juga: Kisah Amad Leupon Membunuh Kapten Marsose

Tapi, ketika pasukan Cristoffel sudah berada di ujung lorong menuju rumah panggung itu, seorang penduduk berteriak “kaphe” yang bermakna kafir. Para penduduk yang ada di rumah itu berlarian menyelamatkan diri. Begitu juga dengan pasukan Pang Nanggroe di atas rumah, mereka melompat ke tanah dan hilang dalam semak-semak.

Pasukan Cristoffel semakin yakin, Pang Naggroe dan pasukannya memang ada di sekitar rumah itu. Tapi karena teriakan seorang penduduk tadi, mereka gagal menangkapnya. Tinggallah rumah panggung itu dengan hidangan makanan di dalamnya.

Cristoffel memeriksa seisi rumah itu. Melihat makanan yang begitu menggoda mata, ia meminta seorang tentara bawahan untuk mencicipinya. Ia curiga makanan itu beracun. Tapi setelah diperiksa, ternyata semua aman untuk dimakan. Maka, Cristoffel memerintahkan semua pasukannya untuk naik dan menikmati makanan gratis itu. Kelelahan akibat patroli pengejaran pasukan Pang Nanggroe dianggap setara dengan makanan yang didapat hari itu. Tak mendapatkan Pang Nanggroe, mendapatkan makanannya saja sudah lebih dari cukup untuk melepas penat.

Baca Juga: Sekolah Penerbangan Lhoknga dan Kisah Pilot Aceh Generasi Pertama

Lagi asyik-asyiknya menikmati hidangan gratis itu, tiba-tiba “bruuukk”, rumah panggung itu ambruk, disertai dengan retetan suara tembakan. Sekelompok orang dari semak-semak sekeliling rumah itu menyerbu.

Ternyata pasukan Pang Nanggroe tidak lari, dan kenduri itu hanya sebuah siasat. Redaktur surat kabar Java Bode HC Zentgraaff dalam buku Atjeh yang ditrebitkan di Batavia (sekarang Jakarta) oleh penerbit Koninklijke Drukkerij De Unie, mengungkapkan, semua tiang rumah itu sudah digergaji secara halus dan diikat kembali dengan rotan. Ketika pasukan kolone macan itu makan hidangan, semua rotan pengikat ditarik, sehingga rumah panggung itu ambruk.

Cristoffel dan pasukannya kaget, mereka benar-benar sudah masuk perangkap. Ia dan pasukannya jadi sasaran empuk serangan pasukan Pang Nanggroe. Beruntung bagi Cristoffel bisa bersembunyi di balik dinding rumah yang roboh itu. Tapi, hampir seluruh pasukannya itu tewas. Sementara Pang Nanggroe bersama pasukannya, meninggalkan rumah ambruk itu dengan aman.

Baca Juga: Kisah Pasukan Cut Ali Menewaskan Kapten Paris

Kini Cristoffel menyadari, ia kalah cerdik dengan Pang Nanggroe, mata-matanya berhasil dikibuli dengan informasi hoax, dan ia sendiri terpancing dengan berita kenduri itu. Pemerintah Kolonial Belanda di Aceh menyadari dan mengakui peran besar Pang Naggroe dalam perang di Aceh Utara. Malah, Belanda menjuluki suami Cut Mutia itu dengan panggilan  “Napolen Aceh”.

Setelah sekian lama diburu pasukan Belanda, Pang Nanggroe akhirnya syahid pada 20 September 1910 dalam pertempuran jarak dengan dengan pasukan marsose pimpinan Van Slooten di kawasan Paya Cicem.

Sementara istrinya, Cut Mutia syahid sebulan kemudian, yakni pada 22 Oktober 1910 dalam pertempuran dengan pasukan marsose pimpinan Sersan Mosselman. Atas dedikasinya dalam perang melawan penjajah Belanda itu, Cut Mutia kemudian dianugerahi gelar sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia.[]

Baca Juga: Kisah Pocut Di Biheue Melawa 18 Tentara Marsose

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

MINGGU INI

© Jasa Web Design Banda Aceh : Gamiah