30.8 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

POPULER

© Jasa Web Design Banda Aceh : Creatv.id

Mantan Pentolan Jamaah Islamiyah Bicara Bahaya Paham Radikal di Aceh

BANDA ACEH | ACEH INFO – Mantan teroris pentolan Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas menjelaskan secara detail tentang bahaya paham radikal saat ini di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Nasir saat menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion (FGD) “Terorisme Musuh Bersama, di Polresta Banda Aceh, Senin, 25 Juli 2022.

Dalam pemaparannya, Nasir mengatakan secara detail tentang bahaya paham radikalisme saat ini di Indonesia yang dikemas dengan tema “Apa Itu Terorisme”. Menurut Nasir, doktrin terorisme di Indonesia lebih cenderung mengeksploitasi targetnya melalui ayat suci Alquran dan memainkan isu-isu Islam garis keras.

Nasir, yang juga mantan Ketua JI Mantiqi ke-III Wilayah Asia Tenggara itu berharap, masyarakat Indonesia harus lebih peka terhadap isu-isu atau ajakan terkait radikalisme.

“Mari sama-sama kita beri pahaman kepada masyarakat tentang bahaya radikalisme dan paham-paham yang berseberangan dengan pancasila,” imbau Nasir Abbas.

FGD Tersebut dibuka oleh Wakapolresta Banda Aceh, AKBP Satya Yudha Prakasa. Dalam sambutannya, Satya berhara peserta yang hadir dalam FGD tersebut dapat menyerap dan memahami setiap materi yang disampaikan oleh narasumber.

“Nanti tim dari Mabes Polri beserta narasumber akan mensosialisasikan dan memberikan materi tentang terorisme. Silakan didiskusikan untuk menambah pengetahuan tentang radikalisme,” ujar AKBP Satya.

Selain Nasir Abbas, FGD ini juga menghadirkan tim dari Mabes Polri AKBP Gatot Hendro Hartono.

Gatot mengatakan, tujuan FGD tersebut sebagai ajang silaturahmi sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana terorisme mendoktrin pola pikir.

Gatot berharap, FGD tersebut dapat menambah khasanah pengetahuan peserta tentang kontra radikal dalam mencegah paham radikalisme dan separatisme. Menurutnya paham ini saat ini banyak dihembuskan oleh kelompok tertentu melalui berbagai elemen ipoleksosbud, dengan tujuan mengubah paham seseorang menjadi radikal.

“Mencegah paham radikal perlu kolaborasi seluruh elemen. Selain Forkopimda, TNI, Polri, juga peran serta dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, dan para mahasiswa,” ujar Gatot.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI

© Jasa Web Design Banda Aceh : Gamiah