19.4 C
Aceh

TERKINI

POPULER

© Jasa Web Design Banda Aceh : Creatv.id

Mengenali Faktor Perkembangan Psikososial Bayi Hingga Lansia

ACEH INFO | BANDA ACEH – Sangat penting memahami dan mengenali faktor perkembangan psikososial pada bayi, karena mencakup pada pikiran, perilaku dan kesehatan mental. Psikososial merupakan aspek penting yang mempengaruhi kehidupan dari bayi hingga lanjut usia.

Kepala Bidang Pengendali dan Pemberantasan Penyakit (Kabid P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Iman Nurrahman, menjelaskan, istilah psikososial pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Erik Erikson pada tahun 1950. Erikson menjabarkan tentang dampak pengalaman sosial terhadap kehidupan seseorang sepanjang hidupnya.

“Kepribadian seseorang itu berkembang melalui delapan tahap, mulai sejak bayi hingga lanjut usia. Berdaarkan teori Erikson dalam setiap tahap ada dua faktor yang mempengaruhinya, yakni konflik dan pengembangan identitas ego. Kedua faktor ini sangat mempengaruhi faktor kepribadian,” jelas dr Iman Nurrahman.

Terkait dengan kedua faktor itu, dr Iman Nurrahman menjabarkan, dalam setiap tahapan kehidupan aka nada konflik yang berbeda-beda yang bila bisa dilalui dengan baik akan membentuk mental yang kuat hingga sedari kecil seorang anak bisa mengembangkan keterampilannya.

Sementara itu terkait dengan faktor kedua, yakni pengembangan identitas ego, dr Iman Nurrahman menjelaskan, identotas ego merupakan kesadaran diri yang dikembangkan manusia melalui interaksi sosial. Identitas ego setiap manusia berubah-ubat tergantung pada pengalaman dan informasi baru yang diperoleh melalui interaksi sosial sehari-hari.

“Karena itu mulai bayi ini harus diperhatikan, sehingga bisa dilalui dengan baik, sehingga terbentuk kepribadian dan kemampuan yang kuat dalam menjalani setiap tahapan kehidupan, mulai dari bayi hingga lanjut usia,” tambahnya.

Terkait dengan hal tesebut, dr Iman Nurrahman menjabarkan delapan tahapan perkembangan psikososial mulai dari bayi hingga lanjut usia. Tahapan pertama terjadi saat bayi baru lahir hingga berusia 18 bulan. Tahapan ini merupakan tahap awal perkembangan kepribadian seorang anak. Selama tahap ini bayi mulai belajar mempercayi orang lain, terutama pada orang tua yang mengasuhnya, berdasarkan seberapa baik pengasuh menanggapi dan memenuhi kebutuhan si bayi tersebut.

“Jika bayi dirawat dengan baik, serta mendapat perhatian, maka ia akan mengembangkan rasa percaya pada orang lain, dan dia merasa aman. Tapi sebaliknya, jika orang tua atau pengasuh bayi tidak konsisten dalam merawatnya, maka bayi akan merasa terabaikan, ia akan sulit percaya pada orang lain, curiga dan merasa cemas, bila ini terjadi maka bayi akan berpotensi menjadi penakut dan tidak percaya pada orang lain,” jelas dr Iman Nurrahman.

Kemudian tahap kedua terjadi pada usis 18 bulan hingga 3 tahun. Pada tahapan ini akan tumbuh rasa malu dan ragu, karena pada tahap ini seorang anak mulai belajar mengendalikan diri dan menjadi lebih mandiri. Bila mendapat pengasuhan yang baik, akan melahirkan rasa percaya diri dan yakin dengan kemampuannya.

Sementara itu untuk tahapan ketiga terjadi pada usia 3 hingga 5 tahun. Pada tahapan ini seorang anak akan memiliki inisiatif dan rasa bersalah. Selama tahap ini, anak akan semakin fokus untuk melakukan sesuatu sendiri dan menetapkan tujuannya sendiri melalui bermain dan interaksi sosial. Jika orangtua memberi kesempatan pada anak untuk bermain serta beraktivitas dengan orang lain, ia akan mengembangkan rasa inisiatif serta mampu memimpin orang lain dan membuat keputusan. Sebaliknya, jika anak tidak diberi kesempatan tersebut, ia akan mengembangkan rasa bersalah dan ragu akan kemampuannya.

Berlanjut ke tahap keempat. Tahapan ini terjadi pada usia 5 hingga 12 tahun. Pada tahap psikososial keempat ini, anak akan mulai mempelajari berbagai keterampilan khusus di sekolah. Oleh karena itu, guru dan teman sebaya memiliki peran penting dalam tahap ini. Di tahap ini, anak semakin sadar akan dirinya sebagai individu dan mulai membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Jika ia berprestasi dibandingkan dengan teman sebayanya, ia dapat mengembangkan kepercayaan diri dan bangga atas pencapaian dan kemampuannya tersebut (kompeten). Namun, anak akan merasa rendah diri (inferior) jika dibatasi oleh orangtua atau guru untuk mengembangkan kompetensinya sendiri.

Memasuki usia remaja, 12 hingga 18 tahun, adalah tahapan selanjutnya (tahapan kelima). Pada tahapan ini terjadi konflik identitad dan kebingungan, karena pada usia ini remaja sedang mencari jati diri dan identitas pribadi yang akan mempengaruhi kehidupannya pada masa yang akan datang.

Jika seorang remaja berhasil di tahap ini, ia akan mampu untuk mempertahankan dan konsisten pada identitas dirinya. Namun, jika gagal, ia mungkin akan mengalami krisis identitas dan menjadi bingung tentang apa yang sebenarnya ia inginkan untuk masa depan. Adapun kegagalan ini akan menyebabkan kebingungan peran, yang kemudian menimbulkan keraguan akan dirinya atau tempatnya di masyarakat.

Belanjut ke tahap enam, ini akan terjadi pada usia 18 hingga 40 tahun. Pada tahap ini, konflik utama berpusat pada pembentukan hubungan intim dan percintaan, yang lebih mengarah ke komitmen jangka panjang dengan seseorang selain keluarga. Sukses pada tahap ini dapat menghasilkan hubungan yang langgeng, bahagia, dan perasaan aman. Sementara bila gagal pada tahap ini, seperti menghindari keintiman atau takut akan komitmen, dapat menyebabkan kesepian dan perasaan terisolasi, atau bahkan terkadang depresi.

Kemudian pada usia 40 hingga 65 tahun atau pada tahapan yang ketujuh, lebih fokus pada tahap psikososial ini adalah memberikan kontribusi kepada masyarakat dan generasi penerus, termasuk dalam membesarkan anak. Orang yang sukses di tahap ini akan merasa bahwa dirinya berguna karena berkontribusi pada masa depan masyarakat. Sementara itu, pribadi yang yang gagal akan merasa tidak memberikan kontribusi apapun pada dunia, maka ia menjadi stagnan dan merasa tidak produktif.

Tahapan terakhir yang kedelapan, akan terjadi pada usia 65 tahun ke atas. Pada tahap ini perkembangan psikososial adalah integritas ego versus keputusasaan yang berkembang pada masa usia lanjut hingga kematian. Pada fase ini, orang lanjut usia memasuki tahap refleksi diri, yaitu waktu di mana ia merenungkan kehidupan yang dijalani semasa hidupnya.

“Jika ia puas dengan hidupnya, ia akan menghadapi masa tua dan kematian dengan bangga. Sebaliknya, orang yang memiliki kekecewaan atau penyesalan semasa hidupnya mungkin akan merasa putus asa,” pungkas dr Iman Nurrahman.[]

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI

© Jasa Web Design Banda Aceh : Gamiah