25.4 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

PT PEMA Energi Diminta Bertanggung Jawab Terkait Pencemaran di Sungai Mati

spot_img

BANDA ACEH | ACEH INFO – PT PEMA Energi diminta bertanggung jawab terkait Sungai Mati Leubok Pusaka di Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, yang diduga tercemar. Pemerintah Aceh juga diminta untuk tidak tutup mata dan segera mengambil langkah tegas.

“Ini menyangkut dengan kehidupan warga yang tinggal di sekitar sungai tersebut,” kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, Ahmad Salihin, Selasa, 20 Desember 2022.

Menurutnya pencemaran yang terjadi sungai tersebut tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat berpengaruh kepada kesehatan manusia karena sungai itu menjadi sumber air bersih warga. Selain itu, kata dia, kebutuhan air untuk pertanian dan perkebunan juga berasal dari sungai yang tercemar limbah tersebut.

Dampak serius lainnya akibat pencemaran turut membuat ikan-ikan yang ada di sungai tersebut mati. Parahnya lagi, menurut Ahmad Salihin, Sungai Mati termasuk wilayah konservasi ikan Betutu yang wajib dilindungi.

“Bila sungai terus tercemar dan tanpa terkendali, ikan tersebut juga bisa terancam punah,” tambahnya.

Sebagai catatan, Betutu yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai Marble Goby atau Marble Sleeper memiiki nilai ekonomis tinggi. Ikan ini mirip gabus dan memiliki pola warna di tubuhnya seperti batu pualam kemerahan.

“PT PEMA Energi harus bertanggung jawab atas kejadian pencemaran tersebut, karena ini merupakan sumber penting bagi masyarakat. Apalagi di sungai tersebut masuk wilayah konservasi ikan Betutu,” kata Ahmad Salihin.

Dampak pencemaran, menurut WALHI Aceh, juga tidak hanya terjadi di Sungai Mati Leubok Pusaka. Namun, dampak pencemaran tersebut dapat berpengaruh luas terhadap kualitas air yang mengalir hingga ke Krueng Arakundo, yaitu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jambo Aye. “Sungai Arakundo merupakan sumber air bersih masyarakat sekitar, juga menjadi sumber mata pencaharian warga setempat,” katanya.

Gampong Leubok Pusaka dan Buket Linteung merupakan desa yang merasakan dampak langsung limbah tersebut. Kedua daerah ini juga berada sangat dekat dengan sungai, bahkan kata Ahmad Salihin jalur lintasan warga yang terdekat menuju ke dua desa tersebut.

WALHI mencatat kasus dugaan pencemaran lingkungan di Sungai Mati itu bukan sekali ini saja terjadi. Sebelum perusahaan migas yang sekarang dioperasikan PT PEMA Energi, beberapa perusahaan lain seperti PT Mobil Oil, PT ExxonMobil dan PT PHE juga mencemari sungai tersebut.

“Artinya pencemaran di sungai tersebut sudah lama terjadi. Namun, tidak ada upaya penanggulangan secara baik, baik dari perusahaan maupun pemerintah,” tegasnya.[]

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI