27.4 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

POPULER

Ragam Versi Asal Usul Nama Aceh

Asal-usul nama Aceh banyak versinya, mulai dari peristiwa tertentu hingga mitos. Berikut beberapa versi yang disebut dalam berbagai literasi.

H Muhammad Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad menjelaskan, sejak abad pertama masehi, Aceh sudah menjadi salah satu tempat singgah para pelintas, malah ada yang menetap. Interaksi berbagai suku bangsa di sana kemudian menjadikan wajah Aceh semakin majemuk.

Untuk mempertegas asimilasi berbagai suku bangsa di Aceh itu, Muhammad Said mengutip pendapat Thomas Braddel yang menjelaskan bahwa di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah dari saudagar Iskandariyah, Mesir. Tapi rempah-rempah itu bukanlah asli dari Iskandariyah tapi dari orang Arab Saba yang membelinya dari pelabuhan Aceh.

Baca Juga: Pasukan Van Woortman Menyerang Batee Iliek

Namun, Raden Hoesein Djajadininggrat dalam buku Kesultanan Aceh. Buku ini ditulis dalam bahasa Belanda, yang versi Indonesia diterjemahkan oleh Teuku Hamid dan diterbitkan pada tahun 1983. Dalam buku ini Hoesein Djajadininggrat menjelaskan bahwa sebelum abad ke-16 Masehi, asal usul nama Aceh dan pembentukan Kesultanan Aceh sangat simpang siur dan terpencar-pencar.

Sementara HM Zainuddin dalam buku Tarich Aceh dan Nusantara, terbitan Pustaka Iskandar Muda, Medan (1961) menjelaskan bahwa bangsa Aceh termasuk ke dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu Mante (Bante), Lanun, Sakai, Jakun, Senui, Semang (orang laut) dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di Semenanjung Melayu. Semua bangsa tersebut erat kaitannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Davida di lembah sungai Indus dan Gangga di India.

HM Zainuddin melanjutkan, sesudah tahun 400 Masehi, orang menyebut Aceh dengan nama Rami atau Ramni. Orang dari Tiongkok menyebutnya Lan Li, Lanwu Li, Nam Wu Li, dan Nan Poli, yang nama sebenarnya dalam bahasa Aceh adalah Lamuri. Sementara orang Melayu menyebut Lam Bri (Lamiri). Ini diduga berasal dari kata Rama Bar atau Rama Bari, sebuah daerah yang terletak di Arakan, Myanmar. Sementara sejarawan Rouffaer sebagaimana dikutif HM Zainuddin menyatakan bahwa kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafat dari kata Ramana.

Baca Juga: Ekspedisi Van Der Heijden ke Batee Iliek

Setelah kedatangan Portugis, mereka lebih suka menyebut Aceh dengan panggilan Acehm. Sementara orang Arab menyebut Asji. Penulis Perancis menyebut Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh. Orang Inggris menyebut Atcheen, Achim,  Acheen, Achin. Orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh.

Itu menurut versi para sejarawan. Tapi versi lain  lebih banyak diceritakan dalam mitos dan cerita-cerita lama. Dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di sungai Tjidaih (ceudaih) yang bermakna cantik. Inilah yang diduga sebagai Krueng Aceh yang meliuk di tengah kota Banda Aceh sekarang.

Para pelayar itu kemudian naik ke daratan di daerah Gampong Pande, Kecamatan Kutaradja sekarang, tapi karena hujan, mereka berteduh di bawah pohon yang rindang. Mereka memuji keindahan pohon itu dengan kata Aca, Aca, Aca yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadininggrat pohon itu bernama bak si aceh aceh. dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.

Mitos lainnya menceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo Cina dan kepulauan Melayu. Saat tiba di perairan Aceh, ia melihat cahaya di atas gunung. Dan ia pun berkata Acchera Vaata Bho (Alangkan Indahnya). Dari situlah lahir nama Aceh.

Baca Juga: Belanda Kembali Menyerang Benteng Kuta Glee Batee Iliek

Kemudian dalam versi lain diceritakan. Ada dua orang kakak beradik mandi di sungai, tiba-tiba melihat rakit pohon pisang hanyut, dan di atasnya bergerak sesuatu. Mereka berenang mengambilnya. Setelah dilihat ternyata ada bayi. Sang kakak meminta bayi itu untuknya, karena adiknya sedang mengandung sementara ia belum hamil. Mereka membawa pulang ke rumah. Setelah beberapa lama bayi itu dibawa keluar. Penduduk kampung jadi heran, karena yang hamil si adik, tapi yang melahirkan bayi di kakak. Mereka berkata dalam bahasa Aceh, adoe nyang mume, a nyang ceh (adik yang hamil, kakak yang melahirkan).

Mitos lain di kalangan masyarakat Aceh tempo dulu menyebutkan, nama Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja hamil, saat bayi raja lahir, penduduk menyebutnya ka ceh (sudah lahir). Dari sinilah diyakini nama Aceh bermula. Tapi ada juga yang menyakini nama Aceh berasal dari watak penduduknya yang keras dan tidak mudah pecah, hal ini disandarkan dengan penjelasan a yang artinya tidak dan ceh yang bermakna pecah. Jadi kata Aceh bermakna tidak pecah.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI