28 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

Sidak RSJ Banda Aceh, Komisi V DPR Aceh Temukan Ulat di Mobil Pengangkut Makanan Pasien

BANDA ACEH | ACEH INFO – Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, M Rizal Falevi Kirani, mendadak berang ketika membuka pintu mobil box perusahaan catering yang mengantarkan makanan untuk pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh. Uap dari mobil box yang keluar membuatnya langsung beropini, “apek.”

Emosinya kian menjadi-jadi ketika memerhatikan kondisi di dalam mobil box itu. Beberapa tumpahan menu, tripleks pelapis yang sudah terlihat usang dan juga ada ulat di sisi kiri mobil box. Falevi, begitu pria itu disapa, langsung memanggil para petugas yang hari itu mengantar makanan kepada pasien RSJ Banda Aceh, Sabtu, 12 November 2022 pagi. “Kalian tidak profesional,” kata Falevi dalam bahasa Aceh.

Berbeda dengan Falevi, anggota Komisi V DPR Aceh lainnya seperti Tarmizi SP langsung menjauh dari mobil box pengangkut makanan itu. Politisi Partai Aceh tersebut mengaku tidak sanggup menahan emosi, apalagi sebelumnya dia sempat mencicipi tahu goreng yang diantar perusahaan catering tersebut dalam inspeksi mendadak (sidak) di RSJ Banda Aceh.

Begitulah sepintas kondisi sidak Komisi V DPR Aceh yang dilakukan di RSJ Banda Aceh, Sabtu pagi. Terdapat beberapa temuan dalam sidak tersebut yang paling mendapat sorotan adalah terkait kebersihan makanan untuk pasien rumah sakit jiwa.

“Tidak higienis, ada ulat di mobil box pengangkut makanan untuk pasien,” kata Falevi Kirani.

Sidak hari itu turut dihadiri Wakil Ketua Komisi V DPR Aceh Irpannusir dan beberapa anggota. Hadir pula sejumlah awak media dan staf kesekretariatan DPR Aceh.

Sebagai catatan, Komisi V DPR Aceh beranggotakan M Rizal Falevi Kirani, Irpannusir, Tarmizi SP, Asmidar, Muslim Syamsuddin, Edi Kamal, Sartina NA, Asib Amin, Zainal Bakri, dr Purnama Setia Budi, dan Azhar MJ Roment.

Dalam sidak itu, anggota Komisi V DPR Aceh turut merasakan beberapa menu makanan yang diberikan kepada pasien. Beberapa makanan yang dicicip ada yang dinilai terlalu asin dan ada juga yang dianggap kurang matang.

Selain itu, pihak ketiga selaku pemasok makanan kepada pasien juga kedapatan tidak memenuhi menu yang telah disediakan oleh dokter. Seperti temuan di menu berisi jeruk, tetapi diberikan pisang.

“Selain rasupan, (makanan) ini juga ada unsur penyembuhan untuk obat sehingga dapat temuan kita tadi (makanan), tidak higienis. Pihak ketiga ini tidak profesional,” kata Falevi.

Dari temuan di lapangan, Komisi V menganggap pihak ketiga penyedia makanan untuk pasien RSJ Banda Aceh tidak bekerja profesional. “Ini menjadi catatan bagi kita,” tambah Falevi yang turut didampingi Tarmizi, SP.

Komisi V meminta Pemerintah Aceh untuk serius dalam memenangkan tender pihak ketiga. Menurut Falevi, pemerintah harus mengajukan beberapa syarat bagi perusahaan penyediaan makanan bagi rumah sakit, yang wajib dipenuhi. “Harus serius memenangkan tender itu, ada syaratnya. Higienis, dan dapurnya juga harus mendukung, pembawa makanannya juga tadi teman-teman juga lihat, apek, ini juga menjadi salah satu fokus kita, jangan kita kasih makanan kepada orang gila, makanan juga ikut gila. Artinya rasupan gizinya tidak ada, unsur terapinya tidak masuk, ini fokus kita,” kata Falevi yang turut didampingi Wadir Pelayanan RSJ Banda Aceh, drg. Sarifah Yessi, M.Kes dan dr Arifdian.

Padahal menurut pengakuan pihak rumah sakit, persoalan makanan ini sudah berkali-kali diperingatkan kepada penyedia makanan untuk pasien RSJ Banda Aceh. Inipula yang membuat Komisi V DPR Aceh merencanakan untuk bertandang langsung ke dapur penyedia makanan bagi RSJ Banda Aceh.

“Kita juga akan panggil mereka dalam rapat kerja Senin mendatang. Ini menjadi catatan kita bahwa catering di Rumah Sakit Jiwa harus dievaluasi,” papar Falevi lagi.

Selain terkait makanan, Komisi V DPR Aceh juga menemukan beberapa infrastruktur bangunan di rumah sakit tersebut yang mulai keropos dan membutuhkan rehabilitasi. Sidak kali ini juga menemukan banyak pasien yang dirawat dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, budaya, narkoba, dan masih adanya pasien yang dipasung serta pasien kambuhan yang telah menjalani perawatan selama belasan tahun.

Komisi V terus berkoordinasi dengan pihak terkait dalam meminimalisir angka gangguan kejiwaan di Aceh agar tidak terus berulang pada orang yang sama. Salah satu cara yang akan ditempuh yaitu mengadakan koordinasi dengan Bappeda selaku leading sector integrasi program pembangunan dan perencanaan daerah. Pihak Komisi V juga akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial, Baitul Mal, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Jiwa dan Dinas Tenaga Kerja serta Biro Isra untuk mengintegrasikan pola penanganan pasien kambuhan.

“Sehingga begitu pasien yang dinyatakan sembuh dilepas dari RSJ, Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja mau menampung, apakah dilatih, itu ranah Disnaker dan Mobilitas Penduduk. Kemudian untuk modal usahanya apakah itu dari Dinas Sosial atau dapat berkolaborasi dengan dinas-dinas lainnya,” kata Falevi lagi.

Menurutnya hal ini perlu dilakukan agar pasien yang keluar dari RSJ tidak minder dengan masyarakat. “Itu yang kita inginkan.”

Sementara itu, Wadir Pelayanan RSJ Banda Aceh, drg Sarifah Yessi, M.Kes, mengakui adanya beberapa kasus baru Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) yang terpengaruh oleh faktor adiksi dan dirawat di rumah sakit tersebut. “Jika dulunya masalah internal atau masalah sosial di dalam keluarga, tapi ini hari sudah banyak terpengaruh globalisasi. Salah satunya terpengaruh media sosial dan game smartphone,” ungkap drg Sarifah Yessi.

Pihak RSJ Banda Aceh juga sudah mendapatkan kasus-kasus yang berhubungan dengan adiksi non zat. Dia mencontohkan adanya pasien yang dirawat karena kecanduan game, pornografi, dan beberapa hal lainnya.

“Ini perlu promosi serta sosialisasi gencar kepada masyarakat dalam menggunakan hp. Mulai dari anak kecil, dewasa, remaja, itu semua dapat terkena dampak adiksi game ini,” kata drg Sarifah Yessi seraya mengakui ada satu pasien yang sempat dirawat karena kecanduan game.

Selain itu, dalam sidak kali ini juga ditemukan beberapa pasien yang dirawat lantaran depresi dan tingginya tuntutan dari orangtua. Dari keterangan yang diterima, ada pasien anak remaja tersebut terganggu mentalnya setelah gagal mendapat nilai yang baik di sekolah sehingga berdampak pada psikologisnya.

“Itu stressor, yang penyebabnya ada dari faktor biologi, psikologi, psikosial, ekonomi dan budaya. Itu satu kesatuan, tidak bisa kita bilang satu penyebab. Nah, mungkin stressornya adalah masalah pendidikan, tetapi mungkin ada stressor lain yang turut memicu, mungkin karena sering kena marah atau pihak keluarga tidak menerima karena nilainya mundur, ini berkaitan dengan pola asuh dalam keluarga dan itu penting,” kata drg Sarifah.[]

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI