24.7 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

SILPA dan Tabiat Buya Tambue

Oleh: De Jong Atjeher

Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) melimpah, tapi tiap tahun mengalami Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA). Anggaran yang berlimpah gagal dieksekusi, ibarat tabiat Buya Tambue, lheuh peurubah han ek hue.

Tamsilan lainnya dari pengelolaan APBA ini adalah seperti orang membangun rumah, anggaran ludes, rumah tak jadi, ibarat kata peng keu tukang habeh rumoh hana lheuh. Padahal, semua anggaran tercatat sampai pada indikator dalam buku anggaran. Program jelas, personil jelas, anggaran melimpah, tapi tetap saja ada yang tidak terlaksana.

Kita sering disuguhi dagelan semacam itu, yang oleh Endatu kita tempo dulu tabiat seperti ini sering disebut dalam ungkapan, busoe seumaloe ek meulika, ureung peh tuloe, ureung yue buta. Tangkulok peucah kupiyah hanco, arang habeh busoe han peuja.

Publik tidak pernah mendapat penjelasa mengapa SILPA terjadi setiap akhir tahun anggaran, sehingga muncul beragam dugaan dengan logika-logika yang sulit dimengerti. Hanya saja perlu dipertanyakan kembali kalau memang program tidak bisa dilaksanakan, mengapa dianggarkan?

Eksekutif dan legislatif yang merencanakan, menyusun sampai mengesahkan anggaran. Lalu tidak direalisasi, gagal eksekusi. Salahnya dimana? Pue pasai han timang? tameh, para sampe bajoe jiphuet keudroe.

Lalu setiap awal tahun anggaran baru kita dengar lagi ada SILPA. Jumlahnya fantastis. Tapi tidak ada yang merasa bersalah. Tidak ada yang diadili. Eksekutif  dan legislatif  lagee keubiri jikap le asee, saket tapi dipeunyum-peunyum, mesra kembali setelah akhirnya karena hase weuk tumpok.

Sebagai penutup celoteh singkat ini, pengelolaan anggaran di Aceh tampaknya tak ubahnya seperti pemborong bangunan. Tiap tahun ongkos borongan lunas, tapi bangunan tidak selesai, sehingga tiap tahun tambah biaya lagi untuk tukang.

Hal seperti ini dalam kisak klasik tempo dulu sering ditamsilkan seperti kerja  tukang pajoh akai.  Datang ke tempat kerja telat, ganti pakaian kerja, asah peralatan, sudah siang lalu makan, shalat dan istirahat, setelah itu tak tuk udep pale. Nyeh siblah papeun ka supot uroe. Bangunan tetap saja tidak selesai, karena waktu lebih banyak terbuang percuma.

Jadi, pengelolaan APBA yang mirip buya tambue lheuh peurubah han ek hue ini harus dirobah segera, agar pengelolaan anggaran dan serapannya bisa maksimal, jangan lagi jatuh di lobang yang sama setiap tahun dengan SILPA yang terus membengkak, meu-keuleude han rhet lam uruek sot. Jangan jadi keuleude apa lagi buya tambue.[]

Baca Juga : Pok Pok Drien dan Intelektual Aceh

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI