27.4 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Banda Aceh Kota Tamaddun

Bandar Aceh Darussalam yang kini dikenal sebagai Kota Banda Aceh merupakan kota pusat peradaban dan pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara pada abad 16 bersama Malaka di semenanjung Melayu.

Tapi pada tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis, sehingga pusat tamaddun dan penyebaran Islam dilakukan di Banda Aceh. Tentang itu sejarawan DGE Hall dalam A History of Southeast Asis, 1968, London, The Mac-Millan Press, halaman 215 menulis:

“Karena itu pada waktu orang-orang Portugis datang kekuatan Islam telah lebih dahulu menggiatkan perluasan penyebaran Islam seluas mungkin. Ketika Malaka jatuh pada tahun 1511 ke tangan Portugis dan menjadi pusat yang sangat strategis untuk menyerang Islam dan perdagangan Islam, dalam dunia kepulauan Asia Tenggara yang luas itu Bulan Sabit selalu lebih maju dari Salib. Bulan sabit itu tidak pernah kehilangan posisinya yang memimpin itu.”

Baca Juga: Awal Mula Kota Banda Aceh

Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, pedagang dan pendakwah dari Malaka ramai yang pindah dan menetap di Banda Aceh, sehingga Banda Aceh muncul sebagai suatu kekuatan  baru dan sangat strategis untuk meningkatkan dakwah dan penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Hal yang sama juga ditulis oleh B Schrieke dalam Indonesian Sociological Studiest Selected Writings, Part Two, 1957, The Hague, W. van Hoeve, yang menjelaskan bahwa Banda Aceh berhasil menempatkan atau memusatkan padanya pusat perdagangan lada yang makin bertambah penting. Dengan demikian mulailah Aceh memainkan peranannya yang baru sebagai sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara. Ia menegaskan hal itu dengan kalimat  “Aceh berkembang menjadi pusat studi agama di nusantara.”

Sumber lainnya bisa dibaca dalam karya Syed Muhamamd Naquib Al Attas yang mengungkapkan bahwa setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, pada masa itu datang ke Banda Aceh ulama-ulama besar dari Timur Tengah, Gujarat dan India, seperti Nurruddin Ar-Raniry. Beliau merupakan seorang ulama yang telah mempersembahkan karya-karya monumental dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam di Aceh. Ia menulis:

“Ar-Raniry was a Sufi, theologian, historian, man of letters and missionary par excellence. His influence in the Malay world wa s tremendous, and has never before been properly understood or correctly assessed and acknowledged,”

Baca Juga: Melihat Banda Aceh dari Titik Nol

Kemudian S Zaslina dalam karyanya juga menjelaskan hal yang sama. Orang-orang terkemuka yang datang ke Banda Aceh pada masa itu adalah Fairus al-Bagdady, seorang kadli yang berasal dari Bagdad. Fairus ini terkenal sebagai seorang kadli dan ulama besar karena anaknya yang bernama Syekh Nayan adalah pendiri Pesantren Tanoh Abee yang sekarang terkenal dengan berbagai naskah tua yang tidak terhingga nilainya.

Dari dalam negeri datang pula ke Banda Aceh ulamaulama terkenal seperti Syech Abdurrauf AI-Singkil dan Hamzah al-Fansury, yang terlepas dari perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka, telah turut menyemarakkan Banda Aceh sebagai pusat penyebaran dan pengembangan Islam di Asia Tenggara.

Tapi ketika Aceh diinvansi oleh Belanda pada tahun 1873, dan perang Aceh dengan Belanda berlangsung hingga tahun 1942, dalam periode 69 tahun peperangan itu banyak ulama-ulama dari Aceh yang pindah ke Penang dan kawasan lainnya di Nusantara untuk melanjutkan penyebaran agama Islam selama perang.[]

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS