25.4 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

14 Oktober 1945 : Aceh Lakukan Show of Force Melawan Jepang

spot_img

Usai salat Jumat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, Residen Aceh Teuku Nyak Arief bersama para ulama dan tokoh pergerakan di Aceh melakukan show of force, memperlihatkan kekuatan rakyat Aceh untuk menekan Jepang.

Pada Jumat pagi, 14 Oktober 1945, rakyat Aceh bersama para ulama dan tokoh masyarakat, menggelar salat hajat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Teungku Muhammad Daod Beureueh (Abu Beureueh) bertindak sebagai imam.

Usai salat para ulama, pejabat, dan perwakilan tokoh masyarakat berpidato secara bergantian. Pidato pertama disampaikan oleh Residen Aceh Teuku Nyak Arief. Dalam pidatonya ia menegaskan. “Saat ini waktu yang terbaik untuk berjuang. Belanda telah berusaha untuk kembali ke sini, karena itu kita harus telah siap dengan barisan-barisan untuk menentang mereka.”

Baca Juga: 13 Oktober 1878 Habib Abdurrahman Menyerah Kepada Belanda

Setelah itu tampil Abu Beureueh berpidato. Ia menegaskan, perjuangan menghadapi agresi Belanda kedua itu adalah perjuangan fisabilillah. Belanda harus dicegah untuk masuk kembali ke Aceh. “Perjuangan yang kita hadapi sekarang ini adalah perjuangan fisabilillah, dan pejuang yang gugur dalam perjuangan suci ini adalah mati syahid,” tegas Abu Beureueh.

Kemudian berpidato juga Ketua Komite Nasional Aceh, Tuanku Mahmud. Ia mengajak dan menyerukan bagi segenap lapisan rakyat Aceh untuk bahu membahu berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh.

Penegasan yang sama disampaikan Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Muhammad Hasjim. Ia menegaskan bahwa aparatur dan kepolisian seluruh Aceh sudah dikuasi dan telah dibersihkan dari unsur dan anasir Jepang.

Baca Juga: 5 Oktober 1949 Knottenbelt Mata-mata Sekutu Masuk ke Aceh

Perebutan kantor-kantor pemerintahan, jawatan dan instansi sipil dan militer Jepang telah dilakukan sejak 27 Agustus 1945. Jepang tak lagi punya kuasa di Aceh, sebelum diserahkan ke Sekutu, kekuasaanya telah lebih dulu dilucuti oleh pejuang Aceh. Hanya di Sabang pada 25 Agustus 1945 Sekutu berhasil melucuti 10.000 tentara Jepang, tapi Sekutu yang diboncengi Belanda dan Inggris tak bisa masuk ke daratan Aceh.

Setelah para pemimpin pergerakan di Aceh berpidato. Rakyat Aceh bersama para ulama dan tokoh penggerak perjuangan kemerdekaan melakukan salat Jumat masih di Masjid Raya Baiturrahman. Dalam khutbah Jumat juga ditegaskan dalil-dalil tentang kewajiban membela bangsa dan berperang di jalan Allah SWT untuk mempertahankan agama, bangsa, dan negara.

Mengetahui itu Residen Jepang (Chokang) di Aceh, Syozaburo Iino mengumpulkan sisa-sisa tentara Jepang yang belum berhasil dilucuti senjatanya oleh rakyat Aceh di kawasan Blang Padang sebelah selatan Masjid Raya Baiturrahman. Tentara Jepang mengamankan para petinggi Jepang di sana dari kemungkinan penyerangan, karena insiden anti Jepang yang sudah lama berlangsung dan telah menyebabkan tidak berjalannya pemerintahan Jepang di Aceh.

Baca Juga: 4 Oktober 1999 UU Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh Lahir

Usai salat Jumat berjamaah di Masjid Raya Baiturrahman, Residen Aceh Teuku Nyak Arief bersama para ulama dan tokoh pergerakan di Aceh melakukan show of force, memperlihatkan kekuatan rakyat Aceh untuk menekan Jepang.

Dari Masjid Raya Baiturrahman Teuku Nyak Arief bersama ulama dan rakyat Aceh berjalan kaki menuju gedung Atjeh Bioskop (kemudian dikenal sebagai bioskop Garuda) di sisi utara Lapangan Blang Padang, hanya sekitar 100 meter dari tempat konsentrasi tentara Jepang.

Di sana Teuku Nyak Arief kembali berpidato berapi-api di bawah ancaman tentara Jepang dengan senjata dan bayonet terhunus di sekitar gedung Atjeh Bioskop. Di gedung itu Barisan Pemuda Indonesia (BPI) menggelar rapat. Dalam rapat tersebut Teuku Nyak Arief sebagai pembicara tunggal menegaskan kembali agar setiap lapisan masyarakat Aceh tidak ketinggalan berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca Juga: Kisah Aceh Menyuplai Data dan Dana Diplomasi Luar Negeri Indonesia

Sejarawan Aceh dan pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasjah Talsya dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan mengungkapkan, meski di bawah ancaman tentara Jepang yang siap siaga di luar gedung Atjeh Bioskop, Teuku Nyak Arief berpidato sangat lantang dan keras, membangkitkan semangat pemuda dan rakyat Aceh untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh.[]

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI