27 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Aceh Hari Ini, 16 Februari 1946 : Kisah “Hantu” Blang Bintang dan Teror Terhadap Jepang

Pangkalan Blang Bintang, Aceh Besar merupakan salah basis kekuatan Jepang di bagaian barat Indonesia. Pangkalan ini diperkuat oleh 6.000 tentara. Tiap malam mereka diteror oleh “hantu” hingga kemudian Jepang memindahkan pasukannya ke Uleelheu.

Kisah “hantu-hantu”  Blang Bintang ini bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan halaman 244-245. Buku ini ditulis oleh pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh Teuku Alibasyah Talsya dan diterbitkan oleh Lembaga Sejarah Aceh (LSA) pada tahun 1990 atas bantuan Menteri Koperasi Republik Indonesia Bustanil Arifin yang juga salah satu tokoh pejuang kemerdekaan di Aceh.

Dalam buku tersebut Teuku Alibasjah Talsya mengungkapkan bahwa pada 16 Februari 1946 mulai pukul 08.00 pagi di Banda Aceh digelar latihan perang Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Residen Aceh terdiri dari Resimen Banda Aceh, Resimen Meulaboh dan Resimen Bireuen. Latihan perang itu disaksikan langsung Residen Aceh Teuku Nyak Arief bersama para perwira, opsir-opsir, staf divisi dan pejabat pemerintah Residen Aceh.

Baca Juga: Pemerintah Pusat Tolak Rencana Aceh Mendirikan Universitas Syiah Kuala

Hadir pula saat itu Zainal Arifin Abbas selaku ketua bidang pengarang majalah Rentjong yang terbit di Binjai, Sumatera Timur (kini Sumatera Utara). Zainal Arifin menulis tentang penarikan 6.000 tentara Jepang dari Pangkalan Lhoknga yang telah dikuasai pejuang Aceh ke pangkalan Blang Bintang, kini dikenal sebagai Bandar Udara (Bandara) Internasional Sultan Iskandar Muda.

Di Pangkalan Blang Bintang terdapat banyak persenjataan, baik senjata berat maupun ringan. Blang Bintang pada masa pendudukan Jepang merupakan perang terkuat tentara Jepang di bagian barat Indonesia, setelah pangkalan Lhoknga. Namun pangkalan Lhoknga telah direbut oleh pejuang Aceh, senjata-senjata tentara Jepang baik senjata berat maupun ringan dilucuti. Dari pangkalan Lhoknga tentara Jepang dipindahkan ke pangkalan Blang Bintang. Dan di sinilah kisah teror “hantu-hatu” Blang Bintang itu bermula.

Sekitar pangkalan Blang Bintang ditanami ranjau dan pagar berduri, tapi setiap malam tentara Jepang yang dikumpulkan di pangkalan itu melihat bayangan putih di sekitar pangkalan, ketika ditembaki, jumlah bayangan yang muncul mendekati pangkalan semakin banyak.

Baca Juga: Kabinet Perang Aceh Membentuk Lembaga Wali Nanggroe

Teror bayangan putih itu membuat tentara Jepang ketakutan, mereka akhirnya meningalkan pangkalan Blang Bintang, Aceh Besar menuju pelauhan Uleelhee, Banda Aceh untuk menunggu jemputan kapal yang akan membawa mereka meninggalkan Aceh.

Jepang memilih untuk tidak menunggu tentara Sekutu/NICA ke Aceh. NICA merupakan singkatan dari Nederlandsch Indië Civiele Administratie atau Netherlands-Indies Civiele Administration, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang bermaksud mendirikan kembali keuasaan Belanda di Aceh setelah Jepang menyerah kalah pada Sekutu.

Bila di daerah lain tentara Jepang dilucuti oleh Sekutu/NICA setelah kalah perang, tidak dengan Aceh, teror dan penyerangan terhadap Jepang membuat Jepang mempercepat meninggalkan Aceh, karena Sekutu/NICA tak pernah bisa masuk ke Aceh.

Karena itu persenjataan Jepang sebagian besar diambil oleh pejuang Aceh, termasuk lima pabrik senjata di berbagai daerah di Aceh, alat angkut, meriam penangkis serangan udara, meriam penangkis serangan laut dan berbagai persenjataan berat lainnya.

Baca Juga: Pengawas Harta Rampasan Perang dari Jepang Dibentuk

Tapi kemudian tentara Sekutu/NICA yang sudah masuk ke Indonesia dan menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia, memerintahkan tentara Jepang di Medan untuk kembali ke Aceh mengambil kembali persenjataan yang sudah diserahkan kepada rakyat Aceh, hal yang tidak bisa dilakuka oleh Jepang dan Sekutu/NICA.

Dengan berbekal senjata rampasan dari Jepang itu, Aceh memperkuat Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) sebuah pasukan dari Aceh yang dikirim ke perang Front Medan Area untuk membebaskan Sumatera Utara dari pendudukan Sekutu/NICA serta menghalau tentara Sekutu/NICA agar tidak masuk ke Aceh.

Sejarah kemudian membuktikan, Aceh sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh tentara Sekutu/NICA, karena itu pula Presiden Soekarno kemudian menjuluki Aceh sebagai Daerah Modal Kemerdekaan Republik Indonesia.[]

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS