27.1 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Kisah Surliyadin, Berkilau di Nasional Tak Didukung dari Aceh

NAMANYA diperhitungkan sebagai seorang pebasket yang malang melintang di sejumlah klub nasional. Sayangnya dia tak mendapat dukungan yang mumpuni dari daerah asalnya.

Surliyadin kini sedang menjalani masa pemusatan latihan (TC), untuk masuk sebagai atlet basket Indonesia, yang akan berlomba di ajang Sea Games 2021, di Hanoi Vietnam, akhir tahun ini. Pada Sea Games 2019 di Filipina, pria kelahiran Puenge Jurong, Banda Aceh ini, berhasil mendapatkan medali perak.

“TC selama sebulan kurang lebih, ini dipangil untuk pertandingan 3X3. Karena ini kan kita seleksi masih 10 orang. Seleksi mulai dari Mei kita persiapan ke Sea Games,” kata Surliyadin, saat berbincang dengan AcehInfo, tengah pekan ini.

Memulai karier profesional sejak 2012, pria yang akrab disapa Itun ini pernah memperkuat sejumlah klub basket, mulai dari Panglima Polem di Banda Aceh, hingga klub basket yang masuk kompetisi nasional seperti PIMNAD Aceh, Garuda Bandung, Garuda Prawira dan juga Bandung Utama. Surliyadin saat ini bermain untuk Bali United.

“Hobi main basket awalnya sejak di SMA 3 Banda Aceh, kemudian diajak ke klub Panglima Polem, dari situ ke Kejurnas Basket mewakili Aceh, di Jogja. Kami kemudian masuk tim untuk membela Aceh di PON Riau 2012,” katanya.

Kisah Surliyadin, Berkilau Di Nasional Tak Didukung Dari Aceh
Surliyadi saat masih membela klub prawira bandung. | foto: surliyadin/instagram.

Basket memang membuka jalan hidup pria kelahiran tahun 1990 silam ini. Usai lulus SMA, anak korban tsunami yang kehilangan ibunya itu, direkrut klub PIMNAD Aceh pada 2008, dan mendapatkan pelatihan serta pendidikan di Bandung, Jawa Barat.

Dia juga memperoleh beasiswa pendidikan hingga kiniĀ  bergelar magister bisnis dari Universitas Widyatama Bandung.

Sejak bergabung di Bali United, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di pulau dewata. Dua pekan sekali, dia dibolehkan pulang untuk menjenguk anak dan istrinya yang kini menetap di Jakarta. Selain menjadi atlet, pria yang menikahi gadis keturunan Sunda-betawi ini sedang merintis beberapa usaha.

“PNS belum tentu sukses juga, kerjaan corporate juga ada PHK. Makanya pas ke sini ya alhamdulillah bisa gabung, bisa dapat penghasilan dari basket. Dengan penghasilan itu, bisa buka bisnis kecil-kecilan gitu, jadi nggak harus terpaku di satu tempat aja,” sebutnya.

Meski kerap kali membawa nama baik Aceh dikancah nasional dan internasional, Surliyadin mengaku kecewa dengan Pemerintah Aceh terutama PB Perbasi Aceh. Sebab apa yang diterima tak sama dengan perlakuan dan apreasiasi terhadap atlet berprestasi dari daerah lain.

“Kalau daerah lain kan seperti dari DKI, Jawa Barat, bagian Timur, mereka TC aja udah dapat dukungan pemerintah. Nggak itu uang, nggak itu support fasilitas, uang saku dari pemerintah daerah masing-masing dan lain-lain. Ini Aceh gak ada apa-apa,” katanya.

Surliyadin juga bercerita tentang betapa tak profesionalnya PB Perbasi Aceh. Dia hampir tak jadi ikut pemusatan latihan untuk ke Sea Games 2019, lantaran PB Perbasi Aceh tak menerima surat dari Perbasi nasional. Ternyata alamat email PB Perbasi Aceh yang terdaftar di Perbasi sudah tak bisa digunakan lagi.

“Segitunya memang Perbasi Aceh. Gimana mau ngomong atlet berprestasi kalau untuk dapat info dan undangan kesempatan ke nasional saja tidak sampai suratnya,” kata Itun.

Saat mendapat medali Perak di Sea Games Filipina 2019 lalu, ayah satu anak ini mengaku tak mendapatkan apreasiasi maupun bonus dari Pemerintah Aceh. Itun sadar, perhatian dan pembinaan bagi atlet basket tak segemerlap pemain sepakbola. Olahraga yang dicintainyanya itu masih dikesampingkan di tanoh Seulanga.

Kisah Surliyadin, Berkilau Di Nasional Tak Didukung Dari Aceh
Surliyadin saat meraih medali perak di sea games filipina 2019.

“Sebagai putra daerah saya sedih juga gak dapat apresiasi, sudah membawa nama baik Aceh tapi pemerintah daerah, PB Perbasi juga tidak dukung, gak ngasih apa-apa. Ya saya mau ngomong apa,” sebutnya.

“Padahal sebenarnya bisa loh kasi apresiasi, dukungan sama pemerintah lah. soalnya itu kan buat pacu semangat atlet-atletĀ  lain juga,” tambahnya.

 

Meski begitu Surliyadin berharap anak-anak Aceh yang bercita-cita menjadi pebasket nasional tak patah arang mendengar kisahnya. Dia juga ingin ada bakat-bakat unggul dari Aceh untuk berkompetisi di liga basket nasional.

“Jangan ragu untuk mencoba, upayakan dulu bisa ikut kejuaraan-kejuaraan daerah atau PON. Soalnya di PON itu pasti banyak pelatih-pelatih yang lirik bibit-bibit atlet. Jadi harus berani merantau, karena ngomong basket di Aceh susah,” katanya.

Bersiap untuk berlaga di Sea Games di Vietnam akhir tahun ini, Itun berharap doa dan dukungan masyarakat Aceh untuknya. Jika lolos membela Indonesia diajang olahraga bergengsi Asia Tenggara itu, dia membuat target mendapatkan medali emas.

“Memang Indonesia tuh selalu di bawah Filipina. Jadi, target dari Perbasi, pelatih, pemain-pemain juga, pengennya kita bisa nomor satu kali ini. Jangan jadi runner up terus,” sebutnya.[]

 

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS