28.9 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Krisis Ukraina: Moskow Tidak Menginginkan Perang

MOSKOW | ACEH INFO – Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengatakan Rusia tidak menginginkan perang atau menginvasi Rusia. Pernyataan ini disampaikan Lavrov setelah Washington mengeluarkan peringatan adanya kemunkinan invasi Rusia terhadap Ukraina pada bulan depan.

Sergey Lavrov, seperti dilansir Al Jazeera menyebutkan, Kremlin tidak pernah mencari alasan untuk terlibat konflik dengan Kyiv. Namun, menurutnya, Moskow tidak akan membiarkan kepentingan keamanannya diabaikan.

“Jika tergantung Federasi Rusia, maka tidak akan ada perang sejauh ini. Kami tidak menginginkan perang… Tapi kami tidak akan membiarkan kepentingan kami diinjak-injak dan diabaikan secara kasar,” kata Sergey Lavrov dalam wawancara kepada media di Rusia, Jumat, 28 Januari 2022.

Sebelumnya pada Kamis, 27 Januari 2022, Amerika Serikat dan NATO menanggapi tuntutan keamanan Rusia yang diajukan pada Desember 2021 setelah Moskow membangun pasukan di dekat perbatasan Ukraina. Dalam tuntutan tersebut, Rusia menuntut komitmen NATO untuk secara permanen memblokir Ukraina sebagai anggota aliansi.

Sementara itu, Kepala Intelijen Jerman mengatakan Moskow belum membuat keputusan akhir tentang menginvasi Ukraina. Namun mereka telah bersiap untuk menghadapi kemungkinan tersebut.

“Saya percaya bahwa keputusan untuk menyerang belum dibuat,” kata Kepala Intelijen Jerman, Bruno Kahl seperti dilansir Reuters.

Meskipun demikian, Bruno Kahl menyebutkan krisis Rusia-Ukraina dapat berkembang dalam ribuan cara. Dia mencontohkan seperti skenario menciptakan konflik untuk mengacaukan pemerintah di Kyiv atau juga memberikan dukungan untuk separatis di timur. Rusia, menurut Bruno Kahl, juga memungkinkan untuk membuat skenario mendorong garis demarkasi ke depan.

Meskipun demikian, Kahl menolak berkomentar tentang sanksi yang harus diambil NATO untuk Rusia jika serangan ke Ukraina terjadi. Dia bahkan mendukung langkah Jerman dalam cara mendekati Rusia.

Di sisi lain, kelompok hak asasi global Amnesty International memperingatkan setiap eskalasi konflik yang ada di Ukraina timur. Kondisi di kawasan saat ini, Kyiv telah memerangi separatis yang mendapat dukungan dari Rusia sejak 2014.

Kelompok hak asasi ini menyebutkan setiap langkah yang diambil akan memiliki “konsekuensi yang menghancurkan bagi hak asasi manusia di wilayah tersebut.”

Amnesty International juga mengatakan peningkatan kekerasan juga akan mengancam “kehidupan sipil, mata pencaharian dan infrastruktur.”

“Konsekuensi dari kekuatan militer yang sebenarnya kemungkinan besar akan menghancurkan. Sejarah Ukraina baru-baru ini diselingi oleh konflik yang melibatkan pasukan Rusia di Donbas dan pencaplokan ilegal Krimea,” kata Sekretaris Jenderal Amnesty Agnès Callamard, mengutip perang di timur Ukraina dan perebutan semenanjung Krimea oleh Rusia pada 2014.

“Episode-episode ini telah menghancurkan komunitas dan kehidupan, karena pasukan militer telah menginjak-injak hak-hak warga sipil dengan impunitas; saatnya untuk memutus lingkaran setan itu,” tambahnya.

Dubes AS untuk Moskow: Sanksi Merupakan Tanggapan Barat jika Moskow Melakukan Invasi

Duta Besar AS untuk Moskow John Sullivan mengatakan, sanksi ekonomi terhadap Rusia hanya akan menjadi salah satu bagian dari tanggapan Barat jika militer Rusia menyerang Ukraina. Langkah lain yang dapat dilakukan Sekutu juga mencakup embargo ekonomi dan embargo militer termasuk mencegah pipa gas alam Nord Stream 2 dari Rusia beroperasi ke Jerman.

Belarusia Dukung Moskow

Sementara itu, Pemimpin Belarusia Alexander Lukashenko mengatakan, Minsk sama sekali tidak tertarik pada perang. Namun dia menegaskan, konflik hanya akan pecah jika Belarus atau sekutu dekatnya, Rusia, diserang secara langsung.

Hal tersebut disampaikan Lukashenko dalam pidatonya di depan para legislator dan pejabat. Moskow dan Minsk akan mengadakan latihan bersama di Belarus di utara Ukraina bulan depan.

Pemimpin Belarusia tersebut mengatakan latihan itu akan membantu Minsk memahami dimana diperlukan untuk memusatkan pasukan. Selain itu, dengan adanya latihan tersebut maka Belarus tahu bahwa mereka harus melindungi sayap selatan dari kemungkinan serangan Ukraina.[]

spot_img
Kontributor :Al Jazeera/Reuters

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS