29.2 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Merawat Budaya Islami Aceh Dalam Meurukon

Meurukon sebagai sebuah seni memili peranan penting dalam syiar Islam di Aceh. Seni yang mirip debat atau cerdas cermat ini mengupas dan memberi pengajaran tentang hukum-hukum Islam kepada pendengarnya, bisa juga menjadi media merawat adat dan tradisi.

Biasanya meurukon digelar pada malam hari di suatu tempat, bisa di halaman meunasah, masjid, balai desa atau di tempat-tempat lainnya. Para kafilah (kelompok) dari berbagai daerah diundang untuk saling menguji kemampuan menjawab dan mengajukan pertanyaan seputar hukum-hukum Islam.

Pertanyaan dan jawaban disampaikan dalam bentuk syair yang memilii rima, sehingga enak didengar dan mudah dicerna oleh para penonton. Apa lagi disampaikan dengan berirama. Irama dalam meurukon sering disebut sebagai radat.

Sebagai tradisi tutur, biasanya bait-bait meurukon bertema tauhid dan mengandung kutipan-kutipan dari Alquran dan hadis. Karena itu pula sejak kemunculannya meurukon sudah dijadikan sebagai media berdakwah yang diinisiasi oleh para ulama yan dalam pertandingan meurukon disebut sebagai syeh kuna yakni hakim yang menilai kualitas jawaban dari setiap kelompok yang saling melempar dan menjawab pertanyaan.

Konon katanya pada masa kolonial meurukon juga merupakan cara kreatif ulama Aceh dalam berdakwah, ketika dakwah-dakwah mereka diawasi oleh pemerintah  kolonial Belanda, para ulama mengemas dakwah melalui seni meurukon sehingga tidak dicurigai.

Secara sepintas meurukon memang mirip dengan cerdas cermat, tapi soal dan jawaban yang dibahas bisa beragam tergantung suasana dan kepentingan, dan dalil-dalil tentang kewajiban jihad juga menjadi pokok bahasan sendiri untuk membangkitkan semangat rakyat Aceh berperang melawan penjajah Belanda.

Menariknya, melalui seni meurukon dakwah yang disampaikan kepada masyarakat juga lebih mengena, masyarakat betah mengikuti acara meurukon semalam suntuk karena ada seni dalam penyampaiannya. Beda dengan pidato atau cermah, tentu pendengar akan cepat bosan.

Meski meurukon bersifat dialog dan adu argument dengan dalil-dalil Alquran dan hadis tentang sesuatu hal, namun pertunjukannya selalu penuh dengan nuansa seni dalam syair-syair penyampaianya. Misalnya seperti syarir permulaan meurukon seperti kutipan di bawah ini:

Alhamdulillah lon pujoe Tuhan, Nyang peujeut alam langet ngon donya, Nyang peujeut langet ka deungon bumoe, Nyang peujeut asoe agam ngon dara.

’Oh lheuh lon pujoe keu sidroe Rabbi, Saleum lon meubri keu jamee teuka, Salammualaikom lon meubri saleum, Keu guree mandum long peumulia

Contoh lainnya misalnya untuk pertanyaan “Berapa perkara rukun syahadat?” Maka kafilah (kelompok) yang menjawab akan menyampaikan jawabannya dengan syair berirama, salah satunya seperti kutipan di bawah ini.

Peutama phon taisbat keu zat Allah, Nyang keudua taisbat keu sifeut Allah, Teuma nyan keulhee taisbat ke fiil Allah, Yang keupeut taisbat kebenaran rasul Allah.

Namun sayannya, ketika Aceh dilanda konflik bersenjata, pertunjukan meurukon tidak bisa digelar, apa lagi pada masa Darurat Militer berlaku jam malam yang tidak membolehkan masyarakat melakukan aktivitas apa pun di luar rumah pada malam hari.

Kita berharap di masa kini meurukon bisa dibangkitkan dan dikembangkan lagi, agar generasi milenial Aceh memahami warisan seni budaya Endatu yang sangat Islami, kalau perlu jenis-jenis pembahasan dalam meurukon juga bisa direvitalisasi dan dimasukkan dengan isu-isu kekinian yang disandingkan dalam pembahasan agama, seperti persoalan kenakalan remaja dan pergaulan bebas, bahaya madat (narkoba) dan lain sebagainya.

Kita juga tentu berharap agar upaya merevitalisasi kembali meurukon ini bisa menjadi perhatian serius Pemerintah Aceh, kalau bukan kita sendiri yang membangkitkannya, siapa lagi? Kata Endatu tempo dulu meunyoe kon anoe mandum leuhop, meunyoe kon droe  mandum gob. Meunyoe droeh teuh hana tasatoh, digop pane jipakoe.[]

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS