27.8 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Meuratoh di Belantara Ibu Kota

Oleh: De Jong Atjeher

Dengan latar pendidikan peracik obat minum, Fadhil  malah menjadi peracik obat batin lewat seni tradisi Aceh di Jakarta.

Minggu siang pekan lalu saya dapat undangan ngopi ke Warkop Pararadja, di Poltangan, Pasar Minggu. Keude kupi yang cukup nyaman di belantara pinggiran Jakarta Selatan. Bang Kamal J Farza merekomendasi, bahwa ngopi disini banyak nilai tambahnya. Dan ternyata hampir semua tokoh-tokoh Aceh di Jakarta saya temui di sini.

Tapi buat saya ada kejutan selain itu. Ketemu artis Tiktok yang khas. Namanya Fadhil Agam Meutuah. Saat saya baru tiba, dia sedang live Tiktok sambil menabuh rapai geleng. Suara dan syairnya amat khas Aceh. Buat saya, ini hal  luar biasa. Ternyata ada orang yang menekuni seni yang di negeri asalnya saja sudah tak populer.

Pria berumur 39 tahun adalah ahli farmasi. Menamatkan D3 Farmasi di Banda Aceh. Di masa itu pula dia mulai belajar tari ratoh jaroe. Tapi belomlah ia tekuni dengan masif. Ketika melanjutkan kuliah S1 Farmasi di Universitas Pancasila Jakarta, di sinilah darah seninya dipertajam dengan tekun.

“Kebetulan saya melihat ada mahasiswa latihan tarian Aceh. Mereka kesulitan mencari syahi/ penyanyi latar. Lalu saya menawarkan diri, sekalian untuk mangasah kembali ketrampilan saya hasil belajar di Banda Aceh” kata Fadhil.

Berawal dari sana, pria kelahiran Pidie itu  kian dalam tenggelam dalam ritmis seni Aceh. Kecintaannya kepada seni tradisi Aceh telah membawanya jauh melenceng dari pendidikannya sebagai ahli peracik obat. Kini, dia mengajar tari ratoh jaroe di sejumlah sekolah negeri dan swasta di Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

Tari ratoh jaroe menurutnya sangat populer saat ini di kalangan pelajar di sini.
“Juga di kalangan pegiat komunitas seperti ibu-ibu pejabat. Saat ini saya juga mengajar di salah satu Direktorat Kemendagri,” ucapnya.

Sebagai pengingat, tari ratoh jaroe menjadi kian digandrungi di ibukota telah muncul sebagai tarian pembukaan saat even SEA Games 2018. Sekilas mirip tari Saman, tapi sesungguhnya berbeda. Maka jadilah Fadhil mencurahkan seluruh hidupnya di sini. Menjadi guru dan juri tari ratoh jaroe. “Ritmis dan daya magis tari ini disukai, energinya luar biasa membentuk ketrampilan menguasai tubuh dan meneduhkan jiwa, benar-benar obat batin bagi anak anak,” ungkapnya.

Dan karena itu ia tidak memilih siapa yang ingin belajar. Walau syairnya penuh syiar Islam, ada juga siswa non-muslim yang sampai minded dengan tarian ini. “Sampai-sampai orang tua siswa itu mendukung setelah kami menjelaskan makna syair-syair itu, menurut mereka tidak mengandung SARA dan sangat mendukung pembentukan psikomotorik dan afektif siswa,” tambahnya.

Saat ini sudah ada piala bergilir Gubernur Aceh yang diselenggarakan di stand Aceh TMII. Pesertanya amat antusias.  Ketika ditanya sampai kapan dia akan menekuni profesi ini? “Belum ada plan lain, lagi pula kehidupan saya memang di sini. Hebatnya hobby yang menunjang kehidupan saya,” jelasnya.

Oh ya, aktivitas live di Tiktok baru dimulainya sebulan terakhir.Sebelumnya dia alergi dengar Tiktok yang katanya serba minim moral. Namun pengikutnya sudah ribuan. Sayangnya, follower terbesarnya justru bukan orang Aceh. “Minim orang Aceh, kalau saya amati memang tidak populer di Aceh,” sesalnya.

Tari tradisi Aceh tampaknya kini kian terasing di negeri sendiri, kalah oleh budaya pop yang merajai. “Hana soe peduli. Semisal ekstra kurikuler harusnya wajib sesuai daerah, misal Didong di Gayo,” harapnya.

Buat saya perbincangan singkat itu memberi sebuah perspektif. Bahwa pendidikan belum tentu linier dengan pekerjaan. Yang dibutuhkan menjadilah berbeda dari orang kebanyakan. Itu akan membuat kita lebih mudah eksis. Dan di era ini pekerjaan pekerjaan yang penuh kreatifitas akan membuat kita tidak tergilas di zaman apapun.

Sore itu, seiring tegukan kopi terakhir, Fadhil menitipkan  pesannya untuk pemimpin Aceh. “Aceh itu kaya dalam segala, kecuali moral dan pola pikir elit yang melihat Aceh sebagai tambang emas yang terus dipungut, bukan Aceh sebagai kebun yang di kelola, diolah dan dinikmati hasilnya bersama semua komponem di dalamnya,” tegasnya.

Menurutnya potensi seni Aceh sangat khas. Ada banyak kesenian lain yang layak dikembangkan dan di lestarikan. “Bek sampe dicok le gop baro sibok dudoe”. Dari pengalaman saat ini kreatifitas berseni bisa menjadi lapangan kerja juga. Konon lagi memanfaatkan medsos yang membuka kesempatan besar untuk eksis. Fadhil telah membuktikannya. Dengan latar pendidikan peracik obat minum, dia malah menjadi peracik obat batin.[]

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS