27 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Berdaya Tanpa Harus Bicara

Oleh: Nezar Patria

SAYA BERHENTI di depan sebuah kedai kecil setelah menyusuri lorong sisi kanan PosBloc Jakarta Pusat. Udara siang yang gerah di luar bangunan terasa menyusup di lorong gedung tua yang berdiri sejak 1920 itu.

Aroma kopi arabika berbaur dengan wangi tumisan bawang cincang yang dibakar di atas pan besar; ada yang memesan burritos agaknya di kedai makanan Meksiko di ujung gang.

PosBloc adalah sebuah oase kecil di pusat Jakarta yang sibuk, dan mungkin menjadi tempat bersembunyi yang sejuk dari udara panas trotoar di Pasar Baru. Ia dekat dengan halte bis, dan terletak berseberangan dengan gedung-gedung tua lain.

PosBloc adalah metamorfosa dari Gedung Pos Filateli, sebuah bangunan putih model art deco dengan jejak kenangan samar-samar tentang kehidupan zaman kolonial.

Di kedai tempat saya berhenti ini tak ada makanan. Mentok di ujung gang, ada seorang penjual jus sibuk memeras tebu dengan mesin penggiling bersuara halus dan lalu dengan sendok besarnya dia memecah kubus-kubus kecil es, suaranya bergemeretak, dan segera potongan kecil es itu tenggelam dalam gelas-gelas plastik bening hijau berisi sari tebu segar.

Udara gerah dan segelas es sari tebu mungkin akan bisa menebusnya. Tapi saya terlanjur berdiri di depan gerai “Via Bata Via”, sebuah kedai studio foto yang tak begitu mencolok kecuali sebuah standing banner yang menyuguhkan “menu” foto dengan aneka paket.

Saya mencoba mengintip ke dalam kedai itu. Pintu kayu kokoh yang jajaran papannya diikat oleh plat logam separuh terbuka dan ditutup semacam tirai kain. Tak tampak seorang pun meskipun saya sudah mengucapkan selamat siang berkali-kali.

Saya berpikir ruangan itu kosong. Tak ada tuan rumah. Seorang lelaki berambut ikal muncul dari balik pintu. Dia memakai masker dan memberi isyarat agar saya masuk. Tak ada suara.

Saya bertanya apa saja layanan yang tersedia di kedai foto ini, dia hanya menyuguhkan daftar menu yang ada di standing banner tadi. Saya kembali bertanya dengan beragam pertanyaan, tapi lelaki itu sibuk mengambil kameranya, memasang lampu blitz, dan menyetel lensa.

Saya menatapnya dan heran mengapa dia tak menjawab pertanyaan saya.
Dia menatap mata saya lalu menurunkan masker di wajah sehingga saya bisa melihat dia menggerakkan bibirnya tanpa suara dan tangannya bergerak seakan-seakan semua yang ada dalam pikirannya tergambarkan oleh gerakan jari dan tangan itu.

Segera saya menangkapnya dengan baik dan penuh hormat; dia seorang tuna rungu. Saya membalasnya secara instingtif, menggerakkan tangan dan memberi semacam kode tentang pertanyaan saya tadi. Tiba-tiba saya merasa terhubung dengan dia secara batin, dan kami bercakap-cakap melalui gerak tangan, gestur dan tatapan mata.

Lelaki itu mengambil kameranya dan meminta saya berdiri di pojok studio itu.

“Kamu mau pose seperti apa?,” dia bertanya.
“Saya mau difoto dengan properti barang-barang antik di sini”, saya menjawab.
“Pakai kotak pos ini, gambarnya bagus.”
“Baik, saya pakai kotak pos itu.”

Berdaya Tanpa Harus Bicara
Pose nezar patria hasil bidikan christianto harsadi. Dok. Nezar patria

Saya berdiri memanggul kotak pos dari sebuah era 1980an. Lelaki itu berdiri beberapa langkah di hadapan saya. Di belakang saya layar putih tergerai.

Moncong lensa kamera lelaki itu membidik persis ke wajah saya, dan dalam bayang-bayang pantulan dari lensa itu saya seperti terseret ke sebuah kisah masa lalu di Banda Aceh: seorang lelaki tuna rungu dan perjuangannya melawan keterbatasan.

Saya teringat Hamdan, yang dulu bertetangga dengan saya di Kampung Mulia, Banda Aceh. Dia seorang tuna rungu yang harus menghadapi “bully” luar biasa saat dia remaja.

Dia terserang demam tinggi sewaktu masih bocah dan entah bagaimana akibat sakitnya itu dia kehilangan pendengaran dan kemampuannya berbicara. Tak ada sekolah khusus bagi penderita tuna rungu saat itu di kampung kami.
Ibunya seorang guru SD dan mengajarkannya huruf-huruf latin. Dia mengenal huruf dan angka tapi tentu tak bisa menyuarakannya.

Dia menghilang cukup lama dan saya bertemu dengannya suatu hari sedang bekerja di sebuah pabrik roti milik seorang lelaki Tionghoa yang baik hati. Hamdan rupanya kerap tidur di tempatnya, dan ini yang mengejutkan saya: dia berlatih kungfu.

Juragan tempatnya bekerja adalah Tauke A Liong, seorang yang bertubuh ramping dengan otot-otot yang tampak liat dan kuat, dan rumahnya dari kayu bercat biru itu tak begitu jelas terlihat di sudut gang dengan rimbunan pagar daun kelor.

Saya mengingat A Liong sebagai lelaki dengan janggutnya yang tipis dan jarang, dua gigi depannya ompong dan beberapa lainnya menghitam dan dia suka melinting tembakau dengan daun nipah dan duduk santai di kursi depan rumahnya sambil menikmati rokok linting itu.

Kampung Mulia bersebelahan dengan Peunayong, kawasan Pecinan, dan ratusan tahun telah menjadi “melting pot” bagi pendatang Tionghoa dengan warga Aceh.

Saya tak tahu persis, A Liong dari generasi ke berapa, kelak saya tahu leluhurnya dari Xiamen, sebuah kawasan di daratan China, dan sudah tinggal di Kutaraja (nama Banda Aceh masa lalu) sejak zaman kolonial Belanda. A Liong juga melatih Tai Chi di sebuah vihara di pinggir kampung kami.

Sebelum bertahun-tahun menghilang dari pergaulan remaja kampung, saya pernah menyaksikan Hamdan dulu harus menahan amarahnya sebagai seorang tuna rungu. Dia sering jadi bahan ejekan, dan bahkan oleh anak-anak lebih kecil darinya, yang suka meniru gerakan-gerakan tak sopan, dan itu membuatnya murka.

Dia hanya berteriak panjang dengan suara “Booo…, boooo …”. Dan kadang menangis sendiri setelah letih mengejar para pengejeknya yang kabur sambil tertawa-tawa.

Sejak itu Hamdan dikenal dengan panggilan “Bobo”. Akibat perlakuan itu, dia jadi malas bergaul dan hanya memilih teman yang tak pernah mengejeknya, dan saya sebagai tetangganya, adalah salah satunya.

Sejak bergaul dengannya saya paham bagaimana berbicara melalui simbol-simbol yang kami pahami. Saya seakan-akan bercakap-cakap biasa saja, seakan-seakan dia bukan seorang tuna rungu.

Kelak saya paham kemarahannya atas aksi bully dan ejekan itu membuat dia menghilang dari pergaulan, lalu bekerja dengan A Liong sambil berlatih kungfu. Kelak dia bercerita kepada saya betapa baiknya A Liong, dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Dia dilatih dengan cara tradisional termasuk saat bekerja.

Misalnya saat dia menyodorkan adonan roti ke dalam tungku besar menggunakan galah kayu, saat itulah kuda-kudanya dilatih. Dia menirukan langkah-langkah yang harus dilakukan dan manfaatnya untuk menguatkan otot paha.

Setelah bertahun-tahun tak bertemu, pada perjumpaan suatu hari itu, dia memamerkan kemahirannya: push up dua jari puluhan kali, memecahkan dua lapis batok kelapa dengan siku, lompatan salto, jurus-jurus pukulan dan tendangan. Saya melihat Hamdan sebagai sosok yang lebih percaya diri dan tetap rendah hati.

Dan sebuah peristiwa menjadi titik balik bagi Hamdan dan dia kelak dipandang dengan penuh hormat dan rasa takut plus segan di kalangan pemuda Kampung Mulia dan para preman tanggung di sekitarnya. Suatu kali saya menemaninya ke bioskop di Peunayong. Ada pelataran luas tempat anak-anak remaja nongkrong di sana.

Seorang remaja dari kampung sebelah menganggunya dengan memainkan korek api yang dipinjam dari Hamdan. Tidak terima dengan perlakuan itu, Hamdan memelintir tangannya. Teman-teman si anak itu lalu mengerubungi Hamdan dan menghujaninya dengan pukulan dan tendangan.

Hamdan mencoba menghindar dan berlari ke tengah pelataran, kembali enam remaja lelaki itu mengepungnya. Saya melihat Hamdan memasang kuda-kuda, dan dia bergerak lincah memecah kepungan itu, lalu dengan sigap melumpuhkan keenam lawannya satu per satu. Dua orang digasaknya dengan tendangan memutar, seorang disikat rahangnya dengan siku, seorang lagi harus mengurut pahanya yang ditendang keras oleh Hamdan.

Dua lainnya mundur setelah bertubi-tubi disodok dengan tinju, dan keduanya terpaksa berlari pulang. Saya bertepuk tangan menonton jurus kungfu yang dipamerkan oleh Hamdan itu. Sejak itu semua bully berhenti, dan sejak itu pula Hamdan berjalan dengan tenang tanpa gangguan.

Kelak dia mengajar sebagian pemuda kampung kami dengan Tai Chi dan kungfu, meskipun tak bertahan lama karena kesulitan tempat latihan, dan akhirnya Hamdan memilih profesi sebagai penggosok batu akik di dekat Pasar Ikan Peunayong. Sejak tsunami menghantam kawasan itu, sampai hari ini saya belum pernah bertemu lagi dengan Hamdan.

“Apakah kamu mau difoto dengan properti lain. Dengan pesawat telepon ini mungkin,” si juru foto bertanya kepada saya.

Saya mengangguk, dan dia memotret sejumlah gaya yang dia arahkan sendiri sambil mengeluarkan suara khas jika posisi saya dianggapnya sempurna.
Setelah pemotretan selesai dia dengan sigap memindahkan file ke komputer, lalu bertanya alamat email saya lalu memakai aplikasi mengirimkan semua file foto itu. Saya membayar ongkosnya, dan di resi pembayaran terlihat namanya di sana: Christianto Harsadi.

Saya mengucapkan terimakasih, dan dalam perjalanan pulang saya mencari nama itu di Google. Christianto, yang biasa dipanggil Anto, rupanya difabel yang menjadi juru foto di Asian Para Games 2018 lalu.

Anto adalah juru foto yang percaya diri dan melawan segala keterbatasannya, dan dia berhasil membuktikan jika dia tak kalah dengan para juru foto lain di ajang olahraga paling bergengsi di Asia itu.

Saya meninggalkan PosBloc sambil tersenyum dan dalam hati kelak berjanji kembali lagi mengunjunginya, sambil mengingat Hamdan di ujung pulau Sumatera. Semoga dia sehat dan baik-baik saja.[]

*Nezar Patria adalah jurnalis senior asal Aceh, yang kini dipercaya menjadi Komisaris Independen PT Pegadaian (Persero). Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di Facebook pribadinya tanpa judul. Redaksi AcehInfo telah mendapatkan izin untuk menyebarkannya kembali, dengan judul yang dibubuhkan redaksi.

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS