29.6 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

POPULER

Cerita Gadis Aceh Dijual Jadi PSK di Malaysia

NIATNYA ingin bekerja, tetapi apalah daya impian menjadi pupus dan tidak pernah nyata. Meninggalkan keluarga di kampung dan memilih merantau ke negeri orang, akan tetapi nasib baik tidak memihak.

Ilustrasi di atas merupakan sepenggal kisah diantara sekian gadis Aceh yang tergiur mendapat pekerjaan bagus di Malaysia. Tujuannya dapat memperbaiki nasib serta taraf hidup, tetapi impian itu tidak pernah bisa digapai.

Tidak sedikit gadis Aceh yang dijual ke Malaysia dan dijadikan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), tentunya modus yang dilakukan dan praktik-praktiknya itu sangat rapi sehingga sulit untuk terdeteksi.

Wartawan acehinfo.id berhasil melakukan wawancara dengan Bukhari, yang merupakan Ketua Perkumpulan Aceh—yang berada di Malaysia. Pengakuan Bukhari cukup mengejutkan, yaitu dalam setiap tahunnya, ia tidak pernah absen menemukan gadis Aceh yang menjadi PSK di Negeri Jiran.

“Setiap tahun saya temukan gadis Aceh yang dijual ke Malaysia dan menjadi PSK,” ujar Bukhari.

Pada 17 April 2022 lalu, dirinya mendapatkan informasi bahwa ada seorang perempuan Aceh yang sedang berada di kawasan kuburan Cina, Pulau Pinang, Malaysia. Sehingga ia bersama rekannya yang merupakan juga warga Aceh, menjumpai perempuan itu.

Kondisinya terlihat seperti dalam keadaan trauma, juga ada beberapa bagian tubuh yang lebam. Perempuan itu bahkan takut melihat laki-laki, sehingga dirinya berinisiatif membawanya ke tempat komunitas Aceh.

Ketua Perkumpulan Aceh
Ketua Perkumpulan Aceh di Malaysia, Bukhari. Foto: Istimewa

Setelah ditelusuri, ternyata perempuan tersebut merupakan warga Kota Lhokseumawe. Sehari-hari dia menjadi Pekerja Seks Komersial dan juga sebagai terapis di Malaysia. Hal tersebut diketahui Bukhari setelah berkomunikasi dengan wanita tersebut.

Dari kisahnya kepada Bukhari, ternyata wanita malang itu menjadi korban bujuk rayu warga Aceh sendiri agar mau berangkat ke Malaysia. Dia sebelumnya diiming-imingi pekerjaan.

“Saya sudah berkomunikasi dengan keluarganya dan benar ia warga Kota Lhokseumawe, kini wanita itu sudah bersama kami di komunitas orang Aceh di sini. Kami juga sudah tahu siapa agen yang membawanya, dan agennya itu juga (orang) Aceh,” tutur Bukhari.

Meskipun tahu tentang wanita Aceh yang menjadi PSK di Malaysia, tapi Bukhari tidak bisa berbuat banyak, apalagi untuk mengambil tindakan. Sebagian besar para perempuan asal Aceh itu berada di hotel-hotel berbintang. Sebagian lain beraktivitas di tempat hiburan malam, yang banyak dijaga oleh preman.

“Tahun 2021 lalu, saya menemukan delapan wanita Aceh yang menjadi PSK di sini. Dan tahun 2022, saya baru menemukan tiga orang. Jadi dalam setiap tahunnya selalu kami temukan,” kata Bukhari.

Modus yang Dipakai

Cerita gadis Aceh tergiur hingga dijadikan PSK di Malaysia sampai saat ini diduga masih terjadi, bahkan aktivitasnya sangat rapi dan tersembunyi sehingga sulit untuk dilacak. Banyak modus yang dilakukan oleh agen-agen yang tidak bertanggungjawab, agar gadis Aceh termakan rayuannya.

Beberapa modus yang sering dilakukan yaitu dengan mengiming-imingi gaji banyak dan berbagai fasiltas bagus. Intinya apabila korban ikut ke Malaysia, maka akan mendapatkan kehidupan yang enak.

Sebagian agen bahkan mengeluarkan uang pribadinya untuk mengurus paspor dan sejumlah dokumen keimigrasian korban, serta menyerahkan sejumlah uang tunai kepada ibu korban sebelum berangkat untuk meyakinkan calon korban.

“Jadi banyak yang seperti itu, awalnya mereka mengeluarkan uang sendiri dulu agar keluarga si korban menjadi yakin, nantinya setiba di Malaysia mereka mendapatkan uang lagi dari orang di sana,” ungkap Bukhari.

Permainan orang yang bertugas mencari korban terlihat sangat rapi, dan tergabung dalam agen-agen ilegal atau tidak resmi. Secara umum, mereka merupakan warga Aceh dan Sumatera Utara yang telah lama menetap di Malaysia.

Korban yang disasar oleh mereka merupakan gadis-gadis Aceh berparas cantik dan memiliki lekuk tubuh bagus serta wajib berusia belasan tahun, terutama bagi mereka yang masih berpenampilan polos.

Rata-rata gadis Aceh itu dibawa dengan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Namun, ada juga yang menggunakan pesawat melalui Bandara Kualanamu, Sumatera Utara dan langsung ke Malaysia.

Ada juga jalur lain yang sering digunakan, yaitu melalui Bandara Kualanamun, Sumatera Utara, transit di Batam, Kepulauan Riau dan kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur laut ke Johor Bahru, Malaysia.

Setiba di Malaysia, gadis-gadis Aceh tersebut dijemput oleh rekan si pencari. Pergerakannya sangat dibatasi, bahkan tidak dibenarkan untuk menggunakan telepon seluler serta dilarang keluar.

“Saat tiba di Malaysia, maka mereka langsung putus kontak dengan orang tuanya di kampung halaman, karena semuanya telah dibatasi. Untuk pegang telepon seluler saja tidak boleh,” kata Bukhari.

Kasus yang Pernah Terungkap

Di Provinsi Aceh dalam beberapa tahun terakhir, pihak kepolisian telah berhasil mengungkap kasus tindak pidana perdagangan manusia, yang melibatkan gadis-gadis Aceh, yang akan dijual ke Malaysia untuk kepentingan bisnis prostitusi.

Pada Jumat, 7 September 2018 lalu, misalnya. Kepolisian Resor Lhokseumawe berhasil mengungkap praktik perdagangan manusia, yang mengiming-imingi korban untuk bekerja di salah satu restoran di Negeri Jiran dan mendapatkan gaji yang layak.

Namun kenyataannya di sana berbeda. Korban malah disekap dan dijadikan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Pelakunya berinisial FA, 29 tahun, warga Kota Lhokseumawe. Sementara korbannya berinisial NW, 24 tahun dan DY, 29 tahun, juga berasal dari kota yang dikenal dengan julukan “Petro Dolar” itu.

Hal serupa juga terjadi pada Senin, 13 Januari 2020, dimana Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH, membuat laporan ke Polda Aceh tentang gadis Aceh yang diduga menjadi korban perdagangan manusia.

Gadis tersebut bernama  Syafridawati, warga Desa Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Dirinya berangkat ke Malaysia pada tahun 2015 lalu, dengan menggunakan agen tenaga kerja.

Awalnya Syafridawati diajak bekerja di Malaysia oleh tetangganya sendiri. Namun, orang tuanya sempat tidak menginzinkan. Akan tetapi, perempuan itu terus dibujuk hingga beberapa kali.

Dia bahkan diiming-imingi mendapatkan gaji yang bagus, serta sejumlah fasilitas yang memadai dan seandainya sakit, maka langsung diobati. Jika korban tidak sanggup bekerja lagi, maka dia dijanjikan dibawa pulang ke kampung halaman.

Bujuk rayu itu membuat keluarga Syafridawati tergugah. Dia memilih berangkat untuk kerja di Malaysia dan selanjutnya tidak pernah memberikan kabar ke kampung halaman.

Lebih lanjut, pada tahun 2012 lalu, Polda Aceh juga berhasil mengungkap kasus perdagangan manusia yang melibatkan dua korban asal Banda Aceh. Kedua gadis belia itu sempat dijadikan budak seks di Singapura.

Kala itu, pihak kepolisian juga berhasil menangkap dua wanita yang berinisial MI, 19 tahun dan AY, 19 tahun. Mereka berdua merupakan jaringan mucikari. Kasus tersebut terungkap ketika orang tua korban melaporkan bahwa anak gadisnya telah menghilang dari rumah.

Sasaran para mucikari tersebut adalah gadis Aceh yang lugu dan cantik, apalagi yang putus sekolah dan kondisi keluarga yang sedang bermasalah, serta menawarkan untuk jalan-jalan ke Singapura secara gratis.

Kejahatan Tertua

Cerita Gadis Aceh Dijual Jadi PSK di Malaysia
Sekretaris Jenderal Integrity, Masriadi Sambo. Foto: Istimewa

Kasus penjualan gadis Aceh ke Malaysia untuk bisnis prostitusi merupakan kasus yang telah lama terjadi dan sudah menjadi rahasia umum. Namun sayang, kasus tersebut tidak bisa mendapatkan proses hukum.

Sekretaris Jenderal Integrity Masriadi Sambo mengatakan, praktik-praktik penjualan manusia ke Malaysia merupakan salah satu bentuk kejahatan tertua di Provinsi Aceh, karena sudah terjadi sejak lama sekali.

“Ini merupakan bentuk kasus tertua, bukan hal yang baru dan sudah menjadi rahasia umum. Banyak agen-agen tidak resmi itu bergentayangan di Aceh, terutama bagi mereka yang sudah lama tinggal di Malaysia,” kata Masriadi.

Masriadi menilai kasus-kasus penjualan manusia ini tidak bisa diproses hukum karena agen yang digunakan tidak terdata secara administrasi, sehingga sangat sulit untuk dilacak. Selain itu, para pencari mangsa yang bertugas juga orang Aceh dan telah lama menetap di Malaysia.

Kenapa mereka tega mengorbankan sesama Aceh?

“Supaya mereka bisa dapat uang banyak dan bisa bertahan hidup, maka dilakukan cara seperti itu, jadi pulang ke Aceh untuk mencari mangsa dan sampai di Malaysia diberikan sejumlah uang tunai,” kata Masriadi Sambo.[]

PEWARTA: MUHAMMAD AGAM KHALILULLAH


EDITOR: BOY NASHRUDDIN AGUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

MINGGU INI