30.3 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Pj Wali Kota Langsa Harap Bank di Aceh Berpihak pada Sektor Produksi

LANGSA | ACEH INFO – Penjabat (Pj) Wali Kota Langsa, Said Mahdum Majid mengharapkan kepada Bank Aceh Syariah dan bank-bank lain yang ada di Aceh lebih menunjukkan keberpihakannya pada sektor produksi dan perdagangan, terutama untuk komoditi yang berorientasi ekspor.

Selama ini banyak pelaku bisnis mengeluh kesulitan mengajukan kredit pembiayaan untuk usaha karena bank lebih memilih main aman melalui kredit konsumtif untuk pegawai,” sebut Said Mahdum, saat launching ekpor perdana di Pelabuhan Kuala Langsa, Selasa, 7 Maret 2023.

Selain Bank, Said Mahdum juga minta kepada dinas terkaitharus mengedukasi petani, pekebun, dan petambak agar bisa menghasilkan produk yang berkualitas ekspor, termasuk penanganan pasca panen, pengemasan dan pemasarannya.

Kemudian, kampus diharapkan terlibat aktif dalam riset dan pengembangan produk pertanian, perkebunan, dan perikanan yang berkualitas dan laku di pasaran luar negeri. Demikian juga untuk pengembangan promosi dan pemasaran melalui pemanfaatan teknologi informasi.

“Apa yang kami sampaikan di atas hendaknya menjadi perhatian dan mendorong komitmen yang lebih kuat dari semua pihak untuk optimalisasi pelabuhan Kuala Langsa dan pelabuhan lainnya yang ada di Aceh, Infrastruktur kepelabuhanan kita cukup memadai, tetapi saat ini belum memberikan dampak positif yang signifikan untuk kesejahteraan masyarakat Aceh,” pintanya.

Ekspor perdana ini menggunakan dua unit kapal kayu, yaitu KM Nagata 75 GT milik saudara Muslim dari Banda Aceh dan KM Bowou Farungo 108 GT milik saudara Anto dari Tanjung Balai Asahan. Kedua kapal tersebut termasuk dalam jenis general cargo yang bisa membawa muatan barang campuran, dalam istilah yang populer di kalangan pelaku ekspor impor disebut kapal sayur.

Lalu, dalam pelayaran kali ini KM Nagata tujuan Port Klang Malaysia. Sedangkan KM Bowou Farungo tujuan Lumut Port dan Hutan Melintang Malaysia. Kegiatan ekspor ke Malaysia dan Thailand ini merupakan perwujudan nota kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang ditandatangai dalam pertemuan tingkat Menteri di Langkawi pada tanggal 20 Juli 1993.

Dalam nota kerjasama tersebut Aceh termasuk sebagai salah satu wilayah prioritas kerjasama IMT GT. Dengan demikian kegiatan ekspor impor ini sudah sepantasnya untuk didukung penuh oleh Pemerintah Pusat agar kesepakatan kerjasama tersebut terealisir dan memberi manfaat kesejahteraan bagi masyarakat di ketiga negara.

Sambung, Said, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah maupun yang saat ini kita alami, agar kegiatan ekspor impor melalui pelabuhan Kuala Langsa dan juga pelabuhan laut lainnya di Aceh dapat berjalan rutin dan berkelanjutan.

“Ada beberapa hal yang menjadi catatan kami sangat mendesak adanya trader lokal yang handal yang menangani aspek jual beli komoditinya atau mengajak para trader dari Tanjungbalai dan Belawan agar mau memperluas usahanya ke Kota Langsa karena merekalah yang mempunyai barang muatan,” ujarnya.

Selama ini, pengumpul komoditi di Aceh jual komoditinya ke juragan yang ada di Tanjungbalai atau Medan. Merekalah yang berhadapan dengan pembeli di luar negeri/end buyer.

“Dengan demikian ketersediaan kapal angkutan langsung dari Kuala Langsa ke Malaysia dan Thailand yang menawarkan efisiensi waktu serta biaya belum akan berdampak dalam waktu dekat pada kelangsungan pelayaran jika trader-nya masih lebih memilih dari luar Aceh,” ungkapnya.

Selain itu, perlu adanya perwakilan dagang Aceh di negara mitra, khususnya Malaysia dan Thailand yang mempromosikan dan memasarkan komoditi Aceh. Membuat kerjasama dengan perkumpulan diaspora Aceh di Malaysia yang jumlahnya mencapai lebih dari 640.000 orang dan 25.000 diantaranya adalah pemilik kedai runcit.

Kemudian, di Thailand kita juga bisa membuat komitmen kerjasama dengan asosiasi pedagang Muslim Thailand atau pihak lainnya. Perlu adanya regulasi di Aceh yang mengatur tata niaga komoditi Aceh sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang.

Selama ini pelabuhan laut dan udara di Aceh belum menjadi pintu keluar (outlet) utama komoditi Aceh, sebagian besar masih melalui pelabuhan laut dan udara di luar Aceh, yang tersisa untuk Aceh hanya jalan-jalan yang rusak karena angkutan sering kelebihan muatan.

Karenanya,izinkan kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada saudara Muslim dan saudara Anto, pemilik kedua kapal yang berani mengambil risiko merintis pelayaran rutin dari Kuala Langsa ke Malaysia dan Thailand.

Selain itu, terima kasih dan apresiasi juga kepada H Ilham Pangestu selaku anggota Komisi V DPR RI yang berusaha keras mendorong agar pelabuhan Kuala Langsa ini dapat dioptimalkan melalui lobi-lobi beliau ke pemerintah pusat dan juga pelaku bisnis ekspor impor, Muslim, Nasir Djamil, dan Abdullah Puteh yang turut mendorong optimalisasi pelabuhan Kuala Langsa dan pembangunan Kota Langsa secara umum.[]

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS