28.2 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

Azwir Nazar: Rohingya Saudara Kita

spot_img

KEMARIN Minggu, 8 Januari 2023, dengan cuaca sangat terik, manusia ‘perahu’ Rohingya kembali terdampar di pantai pesisir Aceh Besar. Ini merupakan kedatangan kedua Rohingya, setelah dua pekan lalu juga ditemukan di Ladong, Kecamatan Masjid Raya.

Kedatangan para Rohingya ini berawal dari informasi beberapa pemancing di muara Kuala Gigieng, Lambada Lhok, Aceh Besar. Saat itu, mereka melihat sebuah perahu merengsek ke bibir Kuala yang berisi manusia.

Informasi itu secara cepat tersebar ke warga nelayan di Desa Lambada Lhok dan segera keluar rumah untuk membantu. Salah satu nelayan, Adi Daod, menghidupkan boatnya ingin menjemput saudara Rohingya yang katanya banyak kaum perempuan dan anak anak.

Arah angin yang cepat berhembus ke Timur, akhirnya boat nelayan ini menepi di tepian kanan Kuala Gigieng, berbatasan Lambada-Gp Baroe. Akhirnya warga pun berputar haluan masuk ke pantai di sela-sela pohon cemara melalui Desa Lamnga dan menuju Gampong Baro, yang menjadi wilayah Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

Karena akses yang jauh dengan pemukiman penduduk dan jalan Raya, terpaksa pengunjung harus berjalan kaki lebih 500 meter untuk sampai di tepi kuala dan melihat pengungsi Rohingya.

Azwir Nazar, warga Lambada Lhok yang katanya sedang di Cahaya Aceh dan dekat dengan kejadian, segera ke lokasi bersama warga. Masyarakat dari Desa Lamnga, Gampong Baro dan sekitar melihat langsung pengungsi Rohingya tersebut.

“Alhamdulillah masyarakat kita walaupun berjalan kaki cukup jauh, tapi sangat antusias datang membantu. Mereka menunjukkan simpati. Walau tak bisa bahasa Rohingya, tapi menunjukkan kemanusiaan yang dalam,” sebut mantan Presiden PPI Turki itu.

Baca: Tiga Kapal Rohingya Dekati Perairan Pulo Rondo

Azwir Nazar kemudian bertanya kepada para Rohingya tersebut dengan bahasa Inggris. Untungnya ada diantara mereka yang mengerti. “Apakah anda semua muslim?” tanya Azwir kepada warga Rohingya, yang diterjemahkan oleh Fairuz (25), salah seorang Rohingya yang berbahasa Inggris.

Azwir bersama Mukim Lamnga, Tgk Wahidin, kemudian menjelaskan kepada warga bahwa Rohingya merupakan saudara yang teraniaya. Mereka terdampar dan patut mendapat bantuan.

“Mereka adalah saudara kita. Mereka teraniaya. Jadi kalau sudah terdampar begini, ada yang bisa dibantu, kita bantu. Atas dasar kemanusiaan. Bukan yang lain,” pinta Azwir.

Baca: Tangani Rohingya, UNHCR Sebut Indonesia Dapat Berkomunikasi dengan Bangladesh

Dari pemeriksaan sementara, kondisi warga Rohingya ini terlihat baik. Terdapat 184 orang “manusia perahu” yang berlabuh di Lamnga hari itu.

“Anak-anak sekitar 40 orang. Dan perempuan banyak yang bercadar,” sebutnya.

Kedatangan para Rohingya ini langsung dilaporkan ke Kepala DInas Sosial, Dr Yusrizal, yang merespon cepat pemberitahuan tersebut. “Beliau berkoordinasi dengan Dinsos Aceh Besar,” sebutnya.

Azwir berharap pemerintah bersama stakeholder lain dan İnternational Solidarity, NGO, IOM maupun UNHCR dapat menemukan solusi permanen dan bermartabat atas manusia perahu ini. Menurutnya etnis Rohingya ini adalah manusia seperti etnis bangsa-bangsa di seluruh dunia. Azwir bahkan mengingatkan tentang kondisi Aceh di masa lalu yang pernah didera konflik dan tsunami.

Baca: Terkait Rohingya, Kemenkopolhukam: Bongkar Sindikat Perdagangan Manusia di Aceh

“Berbondong-bondong bangsa di dunia tanpa melihat ras, etnis, agama datang membantu,” kata Azwir yang juga pengurus Lembaga Adat Laot Aceh.

Para pengungsi tersebut kini telah dibawa ke UPTD DInas Sosial di Ladong untuk penanganan lebih lanjut. Jumlah mereka menapai 184 orang, yang terdiri dari laki-laki dewasa 69 orang, perempuan dewasa 75 orang dan anak-anak 40 orang.

“Untuk anak anak dengan rincian laki-laki 22 dan perempuan 18,” kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Irwan Fahmi Ramli.[]

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI