28.9 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Melihat Isi Museum Negeri Aceh

Museum Negeri Aceh didirikan oleh FW Stammeshaus, pejabat Kolonial Belanda kelahiran Pidie. Ia mengumpulkan berbagai koleksi untuk De Koloniale Tentoonsteling. Ada banyak benda bersejarah yang sampai kini masih disimpan di sana.

Masuk ke perkarangan Museum Negeri Aceh, di halaman terpajang sebuah lonceng besar yang digantung di sisi selatan pintu masuk, itulah lonceng Cakradonya, hadiah Chengho, seorang Laksamana Muslim asal Tiongkok. Lonceng itu dihadiahkan untuk Kerajaan Samudera Pasai ketika ia melakukan kunjungan muhibah ke sana, tapi kemudian dibawa ke Banda Aceh Darussalam pusat Kerajaan Aceh setelah Samudera Pasai menjadi bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Sementara itu di bangunan berlantai tiga di bagian utara, berbagai berbagai barang peninggalan sejarah dipajang, tiket masuknya juga cukup murah, hanya Rp 3.000 untuk orang dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Dengan harga semurah itu Anda bisa melihat semua koleksi yang dipajang di sana.

Di lantai dasar gedung itu beberapa hewan yang sudah diawetkan dipajang, mulai dari ular, buaya, cagei alias beruang, trenggiling, hingga harimau. Naik ke lantai dua foto-foto tokoh dan pejuang Aceh terpajang lengkap dengan keterangannya, sementara dinding selatan berisi fragmentaria sejarah Aceh, mulai dari ultimatum perang Belanda pada Maret 1877 hingga perdamian Aceh, 15 Agustus 2005.

Baca Juga: Sabang dan Kisah Misi Haji Pertama Indonesia

Sementara di tengah ruangan lantai dua itu dalam lemari kaca berbagai senjata tradisional dipajang. Ada beragam jenis rencong, dan pedang serta senjata lainnya. salah satunya adalah kelewang, parang panjang khas Aceh itu, mirip pedang Turki.

Kelewang merupakan senjata andalan pejuang dalam perang jarak dekat. Penulis Belanda HC Zentgraff dalam buku Atjeh menulis beberapa kisah kematian tentara Belanda akibat dibacok dengan kelewang, ia menyebutnya dengan istilah how bovenop, tebasan puncak dari leher membelah rongga dada.

Di lantai dua itu juga ada senampang dan keumuraih. Seunampang merupakan merupakan senjata laras panjang (long weapon), sering juga disebut sebagai sinapang atau seunapang. Senjata jenis ini mirip dengan senjata long rifle yang dipakai kerajaan-kerajaan Eropa. Sementara Keumurai sering juga disebut sebagai kemuras atau peumuraih, merupakan sejenis bedil yang mulut larasnya dibuat besar (a kind of rifle with large mouthed barrel).

Kerajaan Aceh melalui perwakilan Dewan Delapan di Penang pada awal tahun 1870-an, mengimpor ribuan peti senjata dari Eropa. Makanya ketika Belanda menginvansi Aceh tahun 1873, Aceh bisa mengimbanginya dengan senjata yang tergolong modern pada masa itu. Bahkan Panglima Perang Belanda Mayor Jenderal Kohler tewas ditembak dengan Seunampang oleh pejuang Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.

Baca Juga: Bireuen Agreement Awal Mula Bireuen Jadi Kota Juang

Naik ke lantai tiga kita bisa melihat prasasti neuseu, batu bertulis peninggalan purbakala di Aceh. Isi tulisannya menggunakan bahasa Tamil dengan akasara Grantha. Batu berwarna putih kekuningan itu tingginya 1,9 meter centi meter dan lebar 36 centi meter. Disebut prasasti Neusu karena batu bertulis itu ditemukan di kawasan Neuseu Jaya, Kota Banda Aceh. Konon, awalnya tidak ada yang menduga jika batu itu merupakan prasasti yang berisi informasi sejarah.

Sangking tidak ada yang tahu benda peninggalan purbakala itu, warga sempat menjadikannya sebagai tempat atau alas untuk mencuci pakaian di tepi sungai. Pernah juga dipakai sebagai tempat pijakan untuk mencuci kaki ketika hendak masuk ke masjid.

Keberadaan batu itu sebagai objek tinggalan sejarah baru diketahui pada 3 Desember 1990, setelah Kepala Kantor Wialayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kakanwil Depdikbud) Provinsi Aceh bersama timnya berhasil menelusuri goresan-goresan tak biasa pada batu tersebut. Setelah diteliti, ternyata benar, itu merupakan batu bertulis atau prasasti peninggalan masa lalu.

Hasil penelitian kemudian mengungkapkan bahwa prasasti itu terbuat dari batu andesit, memuat informasi dalam bahasa Tamil dengan menggunakan aksara Grantha. Prasasti ini diyakini sebagai peninggalan Tamil Kuno abad ke XI masehi di Aceh.

Baca Juga: Pesawat Seulawah RI 001 dan Kisah Jamuan Makan Soekarno

Koleksi lainnya ada beberapa naskah kitab klasik karangan ulama Aceh tempo dulu. Kelima naskah tersebut adalah kitab Mirathut Thulab yang ditulis dengan aksara Arab berbahasa Melayu. Kitab ini ditulis oleh Syeikh Abdur Rauf as Singkily, Mufti Kerajaan Aceh yang dikenal dengan nama Syiah Kuala, yakni Syeikh yang tinggal di kuala.

Kitab Mirathut Thulab berisi pembahasan yang komprehensif tentang berbagai masalah fikih, tidak hanya terbatas pada masalah-masalah ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan sang khalik, tapi juga membahas persoalan-persoalan muamalah yang mengatur hubungan sesama manusia, seperti masalah sosial, politik, ekonomi dan keagamaan masyarakat muslim.

Naskah kedua ada Syair Jawi Fil Bayan yang berisi kumpulan syair karangan Hamzah Fansury tetang faham Wahdatul Wujud.  Naskah berbahasa Melayu itu juga ditulis dengan menggunakan akasara Arab. Di dalamnya ada Syair Unggak (Burung Pinggai).

Di sisi naskah itu juga ada naskah ketiga berupa kumpulan karangan tentang ilmu tauhid. Naskah berbahasa Melayu ini juga ditulis dengan menggunakan aksara Arab. Kumpulan karangan ini terdiri dari lima naskah yakni: Minhaju Al-Attami yang berisi ilmu bermanfaat, Kak Sul Muhaqiqin yang berisi uraian dan penjelasan tentang tharikat, Ujunul Haqiqah yang berisi tentang penjelasan martabad manusian yang sering disebut sebagai martabat tujoh, ada juga Rubai Hamzah Fansuri yang berisi syair-syair ketuhanan, serta catatan tentang faham wujudiyah.

Kemudian naskah keempat ada kitab Sairus Assalikin Ila Ibadah Rabbi Al Alamin, naskah karya Abdussamad Al Palembani ini ditulis dengan aksara Arab berbahasa Melayu membahas tentang kelebihan ilmu ulama, adab belajar mengajar, kebinasaan ilmu, itikat ketauhidan, iman, Islam, bersuci dari hadas zahir dan batin, najis, cara menghilangkan nasjis, dan istinjak.

Sementara naskah klasik kelima yang dipajangkan di sana berjudul Shirath Al Mustaqim kitab karya Syeikh Nuruddin Ar Raniry ini juga ditulis dengan aksara Arab berbahasa Melayu. Naskah ini merupakan kitab fikih ibadah yang sangat populer di dunia Melayu sejak abad XVII. Pembahasannya mencakup berbagai ritual ibadah, mulai dari bab tata cara bersuci (thaharah), shalat, puasa, zakat dan ibadah-ibadah lainnya. Di sisi lainnya ada juga naskah klasik Hikayat Prang Sabi dipajang tersendiri dalam sebuah kotak kaca.

Baca Juga: Kisah Pembelotan Teuku Umar Dalam Malam Penentuan Round Kelana

Museum Negeri Aceh didirikan pada masa pemerintahan Kolonial Belanda oleh  FW Stammeshaus, pejabat Kolonial Belanda kelahiran Sigli, Aceh, 1881, mengumpulkan dan mengoleksi berbagai benda sejarah yang ditemukannya di Aceh. Koleksinya itu kemudian diikutsertakan dalam De Koloniale Tentoonsteling, yakni pameran kolonial yang diselenggaran di Semarang.

Ia sangat serius menyiapkan keikutsertaannya dalam pameran tersebut, karena koleksi yang dibawanya merupakan koleksi barang-barang seputar Kerajaan Aceh, maka ia menyiapkan juga sebuah bangunan rumah adat Aceh (Rumoh Aceh) yang berupa rumah panggung yang bisa dibongkar pasang.

Rumoh Aceh berserta barang koleksinya diangkut dari Aceh ke Semarang. Rumoh Aceh itu setelah dipasang di Semarang dinamai Paviliun Aceh. Usaha Stammeshaus ini tidak sia-sia, Paviliun Aceh yang berupa Rumoh Aceh itu mendapat anugerah sebagai stand pameran terbaik, sementara barang koleksinya berhasil meraih 4 medali emas, 11 perak dan 3 perunggu dari berbagai kategori yang dipamerkan.

Keberhasilan Stammeshaus dengan koleksinya itu kemudian juga mendapat apresiasi dari Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh, Jenderal HNA Swart. Paviliun Aceh itu dari Semarang dibawa kembali ke Aceh dijadikan sebagai museum. Peresmian Museum Aceh ini dilakukan oleh Jenderal HNA Swart pada 31 Juli 1915.

FW Stammeshaus sendiri diangkat sebagai Kurator sekaligus kepala Museum Aceh. Ia mengupayakan penambahan berbagai koleksi Musuem Aceh dari barang-barang peninggalan Kerajaan Aceh yang didapatnya selama perang. Ia menjadi Kepala Museum Aceh sampai 16 tahun, yakni sampai tahun 1931. Selama 16 tahun itu pula Stammeshaus banyak mengirim koleksi-koleksi barang berharga dari Aceh ke Belanda. Maka hingga kini koleksi-koleksi tentang Aceh banyak tersimpan di Belanda.[]

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS