28 C
Banda Aceh

TERKINI

POPULER

Operasi Mosselman dan Kisah Syahidnya Cut Meutia

Cut Meutia bersama Teungku Chik Paya Bakong, Teungku Mata Ie, Teungku Mat Saleh dan lima pengawalnya pada 25 Oktober 1910 syahid dalam pertempuran di hulu Krueng Peutoe.

Pada tanggal 25 Oktober 1910 pukul 5 pagi pasukan marsose Belanda yang dipimpin Mosselman melakukan operasi ke daerah Krueng Putoe. Di sebuah alur kecil mereka menemukan sebuah tempat yang baru ditinggalkan pejuang Aceh. Tempat itu terdiri dari 16 pondok dari yang kecil hingga yang besar. Orang yang telah bermalam di tempat itu diperkirakan mencapai 60 orang.

HC Zentgraaff dalam buku Atjeh menceritakan, pukul 12 siang pasukan Mosselman tiba di Krueng Peutoe, karena banyak pasukannya yang letih. Mosselman memerintahkan agar Sersan Rabin dan enam anggota lainnya berjalan lamban di belakang untuk kemudian mengikuti Mosselman dari belakang.

Baca Juga: Habib Abdurrahman Menyerah Kepada Belanda

Dengan beranggotakan 10 orang Mosselman terus saja bergerak cepat agar segera dapat menemukan pasukan Aceh. Setelah bergerak agak lama, dua anggota datang padanya dan melapor bahwa mereka tidak lagi sanggup bergerak karena keletihan.

Mosselman kemudian meninggalkan dua marsose yang keletihan itu dan menggantikan dengan seorang marsose yang masih kuat. Ia terus saja bergerak sampai kemudian tiba di bagian selatan Gunong Lipeh. Menurut perkiraannya, pasukan Aceh telah melintasi bagian kanan sungai ke tepi kanan. Setelah bergerak sekitar seperempat jam, mereka sampai ke sebuah alur kecil. Di atas tumpukan pasir kembali dijumpai jejak-jejak kaki akibat kurang hati-hatinya salah seorang laskar pejuang Aceh.

Mosselman bergerak dengan hati-hati menyusuri alur itu. Semakin jauh ke hulu, dasar sungai semakin lebar. Keadaanya semakin berat, batu-batu semakin licin. Setelah begitu lama mereka menelusuri alur itu, pada pukul empat sore mereka melihat asap mengepul ke udara. Ketika Mosselman bersiap-siap mengintai, di hadapan mereka sekitar 200 meter, ia melihat pejuang Aceh yang sudah sangat tua sedang dilarikan dengan didukung oleh beberapa orang.

Baca Juga: Show of Force Aceh Melawan Jepang

Setelah Mosselman melihat bahwa orang itu sedang dilarikan, mereka memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya dengan melepaskan beberapa tembakan. Tembakan Belanda mengakibatkan orang tua tersebut jatuh dan membuat pasukan Cut Meutia panik. Orang tua yang syahid itu adalah seorang yang dianggap keramat yang bernama Teungku Chik Paya Bakong yang dikenal sebagai Teungku Seupot Mata karena matanya rabun.

Dengan syahidnya Teungku Chik Paya Bakong, maka terjadilah tembak menembak antara pasukan Belanda dengan pejuang Aceh. Dalam perang itu posisi Mosselman lebih menguntungkan dibandingkan dengan pasukan Cut Meutia karena dapat berlindung di balik batu-batu besar yang terdapat dalam sungai.

Setelah melihat keadaan yang tidak menguntungkan, segera Cut Meutia mengambil keputusan untuk menyerbu dengan menggunakan pedang, rencong dan berbagai senjata lainnya. Cut Meutia tampil ke depan memberi komando. Cut Meutia digambarkan oleh Mosselman sebagai seorang perempuan bertubuh langsing, berkulit putih kuning, memegang pedang yang telah dikeluarkan dari sarungnya, dan dengan rambut terurai sambil berteriak memberi komando kepada pasukannya.

Baca Juga: Kisah Pemuda Aceh Menyiapkan Mobil RI 1

Ia menyadari bahwa dirinya sudah terkepung rapat, tidak sedikit pun di wajahnya terlintas keragu-raguan. Ia bertempur penuh sikap satria. Akhirnya tiga peluru Belanda yang dilepaskan dari senjata Mosselman mengenai tubuhnya, sebutir di kepala, dua butir di badannya, ia roboh ke bumi. Syahidlah srikandi Aceh yang tak pernah kenal menyerah itu pada 25 Oktober 1910 di hulu Krueng Peutoe.

Bersama Cut Meutia syahid juga Teungku Chik Paya Bakong, Teungku Mata Ie, Teungku Mat Saleh dan lima pengawalnya. Sementara anak Cut Nyak Meutia, Teuku Raja Sabi lolos dari pertempuran itu, karena saat meletus peperangan ia sedang  memancing di sungai. “Dengan syahidnya Cut Meutia, perjuangan rakyat Keuretoe belum berakhir. Putranya, Teuku Raja Sabi masih memegang peranan penting dalam perjuangan yang masih lama itu,” tulis Zentgraaff.

Atas jasa-jasanya itu dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, oleh pemerintah Republik Indonesia, Cut Meutia kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional melalui surat keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 107 tangal 2 Mei 1964.[]

Baca Juga: Poh An Tui dan Sentimen Anti Tionghoa di Aceh

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI