27.1 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Aceh Mengenal Minyak Bumi Sejak Abad 16, Dulu jadi Logistik Perang

HARTA karun yang berada di perut bumi Aceh paling banyak diperebutkan adalah Minyak dan Gas Bumi (Migas), yang seolah-olah seperti “bidadari cantik” karena banyak yang ingin memilikinya, apalagi dalam kondisi yang ekonomis.

Sebenarnya Aceh sudah tidak asing lagi dengan persoalan minyak dan gas. Pada abad ke 16 dan 17, Kesultanan Aceh sudah mulai menggunakan minyak bumi sebagai obor penerang dan juga digunakan untuk membakar kapal-kapal milik Portugis saat terjadi peperangan di perairan Selat Malaka.

Kala itu, minyak yang naik ke permukaan tanah dan menggenangi rawa-rawa Aceh juga telah digunakan sebagai obat gosok, bukan hanya itu saja bahkan diperdagangkan ke luar negeri.

Untuk itulah jauh sebelum Indonesia Merdeka, Aceh sudah mulai melakukan perdagangan di bidang minyak bumi sampai ke luar negeri.

Ketika 15 Juni 1885, saat itu A.J. Zijker berhasil menggali sebuah sumur minyak yang diberi nama Telaga Tunggal I atau Telaga Said, yang terletak di 12,5 kilometer di sebelah Pangkalan Brandan, Langkat Sumatera Utara.

Dengan pengelolaan sumur minyak di Telaga Said itu, maka dimulailah sejarah perminyakan di Indonesia. Sumur minyak tersebut dikelola oleh NV Koninklijke Nederlandsch Petroleum Mij.

Seiring perjalanan waktu, perusahaan itu kemudian berpatungan dengan Shell untuk membentuk sebuah perusahaan minyak, yang diberi nama Bataafsche Petroleum Mij (BPM) dan pada tahun 1892 dibangun kilang penyulingan minyak yang berkapasitas 2,4 ribu barrel per hari di Pangkalan Brandan.

Seiring perjalanan waktu, sembilan tahun kemudian perusahaan Holland Perlak Mij, NV. Petroleum Mij Zaid Perlak, mengeksplorasi minyak bumi di Rantau Panjang, Landsehap Perlak, Aceh Timur. Minyak tersebut mereka temukan sejak tahun 1900.

Hasil eksplorasi itu kemudian dialirkan dengan pipa sepanjang 130 kilometer ke kilang BPM di Pangkalan Brandan untuk disuling, dan kemudian dialirkan ke pelabuhan Pangkalan Susu untuk diekspor ke luar negeri.

Dengan demikian aktivitas perminyakan Aceh sudah mulai berproduksi secara komersial, pada bulan Agustus 1901. Produksi minyak di Rantau Panjang mencapai 240.250 liter dan pada tahun 1909 meningkat menjadi 68.807 ton.

Akibat produksi minyak yang terus meningkat, maka mendorong perusahaan lain untuk memburu ladang minyak di Aceh dan ladang minyak tersebut bukan hanya berada di Landsehap Perlak, tapi sudah mulai meluas ke beberapa daerah lain, seperti Idi, Langsa dan Tamiang.[]

PENULIS: MUHAMMAD AGAM
EDITOR: BOY NASHRUDDIN AGUS

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS