27.4 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

POPULER

Kisah Hansen dan Sayembara Kepala Teuku Umar

Pada 29 Maret 1896, Belanda membuat sayembara kepala Teuku Umar. Belanda menyediakan hadiah untuk yang bisa menangkap Teuku Umar hidup atau mati sebesar 25.000 dolar akibat peristiwa Nicero dan Hoc Canton.

Kisahnya bermula ketika kapal dagang Inggris, Nicero terdampar di Teunom, Aceh Barat. Karena adanya sengketa pabean, Raja Teunom menyandera kapal tersebut. Kapten dan anak buah kapal dipenjara. Mereka baru akan dibebaskan jika kerajaan Inggris bersedia membayar tebusan 10.000 dolar.

Dalam buku The Dutch Colonial War in Aceh pada bagian The Story of Teuku Umar halaman 162-168 diungkapkan bahwa Inggris kemudian meminta Belanda sebagai sekutunya untuk melakukan pembebasan. Komisaris Pemerintah Belanda di Aceh, Letnan Jenderal Vetter meminta bantuan Teuku Umar yang sejak 30 September 1893 telah “berdamai” dengan Belanda.

Baca Juga: Nisero Quaestie Kisah Raja Teunom Membuat Panik Belanda

Belanda menerima Teuku Umar menyerah atas saran Penasehat Pemerintah Hindia untuk Aceh, Snouck Hurgronje. Setelah menyerah, Teuku Umar dibawa ke Masjid Teuku Di Anjong di Peulanggahan, salah satu masjid tertua di Aceh. Di masjid itu Teuku Umar diminta mengucapkan sumpah setia kepada Belanda. Ia menyanggupinya.

Gegerlah Aceh, Teuku Umar telah berpihak kepada Belanda. Dan yang paling menderita atas peristiwa ini adalah Cut Nyak Dhien, istri Teuku Umar. Cut Nyak Dhien dulu bersedia menikah dengan Teuku Umar setelah suami pertamanya Tgk Ibrahim Lamnga syahid dalam perang. Kini teman hidup dan seperjuangannya itu telah jatuh dalam ketiak Belanda.

Teuku Umar mendapat berbagai fasilitas dari Belanda, termasuk sebuah rumah mewah di Lampisang dengan perabotan model Eropa. Hingga suatu hari Teungku Fakinah, ulama perempuan yang memimpin perang melawan Belanda di empat benteng pertahanan di wilayah Lamkrak, mengirim utusan kepada Cut Nyak Dhien. Melalui Cut Nyak Dhien, ia menantang Teuku Umar dan pasukan kompeninya untuk berperang, Teuku Umar tinggal menyebutkan tempatnya, Teungku Fakinah dengan pasukannya akan datang.

Baca Juga: Kisah Belanda Membangun Kembali Masjid Raya Baiturrahman

Bagi lelaki Aceh, ditantang perempuan merupakan penghinaan yang paling besar. Ketika Cut Nyak Dhien menyampaikan hal itu kepada Teuku Umar, dan berharap Teuku Umar kembali memimpin barisan pejuang Aceh, Teuku Umar tetap diam. Ia hanya berkata pada Cut Nyak Dhien bahwa sebuah peristiwa besar akan terjadi. Cut Nyak Dhien semakin gusar, benar-benar sebuah petaka jika Teuku Umar menjawab tantangan Teungku Fakinah tersebut.

Hingga kemudian terjadilah peristiwa kapal Nicero di Teunom. Namun bukan itu peristiwa besar yang dimaksud Teuku Umar. Itu hanya jalan pembuka ke arah peristiwa itu. Gubernur Sipil dan Militer Belanda di Aceh Mayor Jenderal C Deijkerhoff bersama Komisaris Pemerintah Belanda di Aceh, Letnan Jenderal Vetter meminta Teuku Umar untuk memerangi raja Teunom dan membebaskan kapal Nicero, karena Inggris terus mendesak Belanda.

Teuku Umar menyanggupinya. Tapi, ia memberi gambaran bahwa raja Teunom memiliki pasukan yang gesit dan pesenjataan yang banyak. Untuk melawannya juga harus dengan persenjataan yang seimbang. Saat itu Mayor Jenderal C Deijkerhoff  dan Letnan Jenderal Vetter pun masuk dalam skenario Teuku Umar. Ia membekali pasukan Teuku Umar dengan senjata dan amunisi yang banyak.

Baca Juga: Kisah Rapat Samoedra di Esplanade Koetaraja

Untuk memastikan Teuku Umar benar-benar menyerang Teunom, 32 tentara marsose asli Belanda mengawasinya dan akan ikut berperang. Mereka berangkat dari Kutaraja menuju Teunong dengan kapal Bengkulen.

Ketika memasuki wilayah perairan  Teunom, Teuku Umar dan pasukannya membunuh ke-32 tentara marsose Belanda itu di atas kapal. Seluruh senjata dan amunisi dirampas. Teuku Umar kemudian memperkuat pasukan raja Teunom. Ia meminta raja Teunom untuk tidak menurunkan tuntutannya kepada Inggris dan Belanda.

Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia dan Kerajaan Belanda terguncang. Maklumat perang terhadap pribadi Teuku Umar pun dikeluarkan. Rumah yang dibangun untuknya dibakar dan diledakkan, gelar Johan Pahlawan yang diberikan padanya juga dicabut. Atas peristiwa itu Pemerintah Kolonial Belanda memecat Gubernur Sipil dan Militer Hindia Belanda di Aceh, Jenderal Deyckerhoff dari jabatannya. Sebagai penggantinya diangkat Jendral Van Heutsz.

Baca Juga: Jejak Atjeh Bioscoop Dalam Fragmen Sejarah

Kini Cut Nyak Dhien tersenyum. Semua orang yang pernah mencaci maki dengan sumpah serapahnya kepada Teuku Umar terkejut. Belanda akan diperangi dengan senjatanya sendiri di tangan Teuku Umar. Setelah peristiwa itu, Belanda yang terus didesak Inggris terpaksa membayar uang tebusan 10.000 gulden kepada raja Tunom, maka kapal Nicero dan 18 awaknya dibebaskan.

Sejarawan Aceh, H Muhammad Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad menjelaskan, Pemerintah Belanda membuat sayembara dengan hadiah 25.000 dolar bagi siapa pun yang bisa menangkap Teuku Umar hidup atau mati. Sayembara itu sampai kepada Kapten kapal Hoc Canton, Hansen warga negara Denmark.

Hansen merupakan pisau bermata dua. Ia penyelundup ulung yang sering menyelundupkan senjata dari pasar gelap di Malaysia ke Aceh dengan kedok pedagang rempah-rempah. Ia berulang kali mampu melewati patroli Belanda dengan cara mematikan lampu kapalnya saat berlayar ke Aceh. Tapi bagi Hansen, hadiah 25.000 dolar itu sangat menggoda.

Baca Juga: Pesawat Seulawah RI 001 dan Kisah Jamuan Makan Soekarno

Belanda juga tahu bahwa Hansen sering berhubungan dengan kelompok-kelompok pejuang Aceh. Kedekatan Hansen dengan jaringan perdagangan senjata ke Aceh akan digunakan untuk memburu Teuku Umar.

Pada 12 Juni 1896, Hansen bersama kawannya Roaura berlayar ke Reugaih dengan kapal Hoc Canton. Keduanya beralasan ingin mengambil kapal The Eagle yang berlabuh di Reugaih. Mereka sampai di Reugaih pada 15 Juni 1896.

Di Reugaih Hansen dan Roaura membeli rempah-rempah dari kelompok jaringan Teuku Umar. Tapi, setelah rempah-rempah dimuat, Roaura berkata bahwa Hansen ingin melakukan pembayaran di atas kapal kepada Teuku Umar. Tapi Teuku Umar menolaknya. Roaura memintanya sampai tiga kali, sampai Teuku Umar menyanggupinya.

Berangkatlan Teuku Umar dengan kapal The Eagle menjumpai Hansen di atas kapal Hoc Canton. Ketika Teuku Umar naik, ia disergap. Tapi Hansen ternyata tinggal sendiri, semua anak buah kapal sudah lebih dulu “diamankan” 40 pejuang Aceh yang menyelinap ke Hoc Canton pada malam hari.

Baca Juga: Benteng Indra Patra Riwayat Patriotik Inong Balee

Hadiah 25.000 gulden hilang di mata Hansen. Ia mencoba melarikan diri, tapi ditembak Teuku Umar. Masinis kepala kapal Hoc Canton, Robert Mc Gulloch bersama kepala juru kemudi Lanbeker yang berkebangsaan Jerman juga mati ditembak.

Sementara istri Hansen bersama masinis kedua John Fay dan enam awak kapal Hoc Canton disandera. Kapal Hoc Canton disita beserta isinya, diantaranya uang tunai 5.000 dolar, lima pistol, dua meriam dan enam bedil model snider.

Peristiwa itu menjadi perbincangan di Eropa, setelah koran Penang Gazatte memberitakannya. Organisasi dagang Penang Association membuat rapat khusus di Malaysia, mereka medesak Belanda di Aceh untuk membebaskan awak kapal Hoc Canton. Belanda dianggap tak mampu menguasai keadaan di Aceh.

Tak mau kehilangan reputasinya di Eropa, Belanda akhirnya membayar uang tebusan kepada Teuku Umar sebanyak 25.000 dolar. Setara dengan hadiah sayembara kepalanya. Nyonya Hansen dan awak kapal Hoc Canton pun dibebaskan. Atas segala peristiwa itu, perwira Belanda, mayor LWA Kassier menyebut Teuku Umar sebagai de meest intellegente en zeer baschaafde Athjeher, orang Aceh yang paling cerdas dan sopan.

Baca Juga: Darma Wangsa Tun Pangkat Sisi Lain Sultan Iskandar Muda

Selama tiga bulan ditahan, Nyonya Hansen sudah bisa berbahasa Aceh. Perempuan Denmark itu mengaku diperlakukan sangat baik oleh Teuku Umar. Selama menjadi tawanan perang, Nyonya Hansen dititip Teuku Umar di rumah Teungku Haji Darwis Reugaih. Sementara untuk mediasi pembebasan para tawanan perang itu, Teuku Umar menunjuk Nyak Pirang, tokoh masyarakat Reugaih.

Setelah dibebaskan, Nyonya Hansen bercerita kepada Chirstiaansen, seorang perempuan yang juga berkebangsaan Denmark. Sesama orang Denmark, Nyonya Hansen berbicara apa adanya. Ia mengaku selama dalam tawanan diawasi dan dijaga sangat ketat oleh orang kepercayaan Teuku Umar. Meski demikian, ia mengaku diperlakukan sangat baik.

Nyonya Hansen hanya mengalami luka kecil saat suaminya mencoba menangkap Teuku Umar di kapal Hoc Canton. Meski demikian, kepada Chirstiaansen ia mengaku sangat sedih atas kematian suaminya itu.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

MINGGU INI