27 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Kisah Korban Tragedi Simpang KKA

Murtala (42) baru saja menghadiri kenduri di kediman rekannya. Dia kemudian bergegas pergi ke Pasar Krueng Geukuh Kecamatan Dewantara untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Namun di lokasi terlihat ramai dan tidak seperti biasanya. Jumlahnya mencapai ratusan. Hal yang tidak biasa terjadi di Kantor Kecamatan Dewantara masa itu.

Merasa was-was, Murtala mengurungkan niatnya untuk berbelanja. Dia masih penasaran dengan ramainya orang di sana. Pria berkulit sawo matang itu akhirnya memilih pulang.

Murtala merupakan salah seorang korban peristiwa Simpang KKA, yang terjadi pada 3 Mei 1999 lalu. Sembari menarik sebatang rokok dan ditemani secangkir kopi, dia menceritakan peristiwa yang terjadi pada 23 tahun lalu itu.

Baca: Keluarga Korban Simpang KKA Sebut  Penyelesaian Pelanggaran HAM Masih Gelap

Suara lantang terdengar ketika dia menceritakan tragedi Simpang KKA. Pun sesekali suaranya lirih, serta meneteskan air mata karena mengenang kisah yang cukup pahit.

Murtala kembali menceritakan kisahnya kala mengenang peristiwa Simpang KKA. Setiba di rumah, Murtala berpesan kepada istrinya agar jangan keluar karena takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara dirinya memberanikan diri untuk kembali ke kantor kecamatan. Dia berjalan kaki dan setiba di Simpang KKA melihat banyak orang yang berdatangan. Lalu lintas jalan Banda Aceh-Medan bahkan macet total.

Suara kumandang azan salat Zuhur mulai terdengar.

Murtala bergegas melaksanakan salat di rumah temannya, yang tidak jauh dari Simpang KKA. Usai melaksanakan salat, maka dirinya kembali mendatangi lokasi berkumpulnya massa karena masih belum tahu apa yang sebenarya terjadi.

“Tiba-tiba terdengar suara letusan senjata,” ujar Murtala, Rabu, 4 Mei 2022.

Murtala mencoba menyelamatkan diri, tetapi tiba-tiba ia langsung dipukul di dada dengan menggunakan popor senjata. Murtala bahkan sempat diinjak-injak dan dilempar ke mobil. Namun dia terjatuh ke jalan.

Murtala terdiam. Dia tidak bisa menceritakan apa yang selanjutnya terjadi karena dirinya pingsan.

Setelah siuman, Murtala mendapati dirinya sedang berada di Rumah Sakit Umum Lhokseumawe. Sekarang, rumah sakit itu berganti nama menjadi Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI). Sejak itu, Murtala mengalami trauma selama enam bulan.

“Saya tidak keluar dari rumah, kadang untuk pergi kerja, saya juga mengalami rasa ketakutan,” kata Murtala.

Dia berharap pemerintah dapat menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh dan memberikan perhatian kepada setiap keluarga yang menjadi korban.

Selain itu, Murtala berharap adanya tugu atau monumen di setiap tempat-tempat terjadinya pelanggaran HAM, agar generasi Aceh mengetahui peristiwa apa saja yang terjadi di masa lalu.

“Pemulihan dini kepada korban pelanggaran HAM di Aceh penting untuk dilakukan oleh pemerintah, apalagi masih ada korban yang mengalami trauma hingga sekarang,” ungkapnya.[]

PEWARTA: MUHAMMAD AGAM KHALILULLAH

EDITOR: BOY NASHRUDDIN AGUS

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS